Furuki Okite no Mahou Kishi Jilid 1 - Bab 1

 

Bab 1
Reinkarnasi Sang Barbar

──Tahun Roh 1446. Kerajaan Calvania, yang terletak di pusat Benua Alfeed.

Ibu kota Kerajaan Calvania, yang dipimpin oleh keluarga kerajaan dengan Raja Suci Alsur sebagai leluhurnya.

Di sebelah timur laut, jauh di dalam hutan Shaltos, berdiri nisan makam seorang ksatria.

Dan malam ini, dari hutan ini, tirai legenda baru akan segera disingkap──

"Hah! ...Hah! ...Hah!"

Malam itu adalah malam di mana badai mengamuk dengan hebatnya. Angin dan hujan yang dahsyat berpusar kencang, sementara kilatan petir membelah langit malam yang pekat layaknya dasar samudra yang paling dalam.

Di antara pepohonan yang merintih dan berderit karena dihantam badai, seekor kuda berlari kencang.

Di atas punggung kuda itu, seorang "pemuda" tengah duduk memacu tali kekang dengan kuat.

"Pemuda" itu memiliki rambut pirang pendek selembut sutra dengan mata biru safir yang bening.

Usianya mungkin sekitar lima belas atau enam belas tahun.

Dengan kulit putih porselen yang halus, tubuh yang cenderung mungil dan ramping, serta raut wajah yang terpahat indah... ia terlihat sangat androgini, atau lebih tepatnya, feminin.

Namun, tidak ada sedikit pun kesan lemah atau ragu pada dirinya.

Keanggunan serta kewibawaan yang terpancar darinya begitu kuat, hingga mampu membuat siapa pun yang berhadapan dengannya tanpa sadar ingin berlutut.

Ia mengenakan jubah di atas baju zirah kain yang megah, dan di pinggangnya tersampir sebilah pedang tipis, Rapier.

Penampilannya itu adalah seragam resmi dari siswa Sekolah Tinggi Ksatria Roh Kerajaan Calvania—seorang Squire atau Ksatria Magang.

"Aku... tidak boleh... mati di sini...!"

"Pemuda" itu terus memacu kudanya tanpa ampun, berlari kencang menembus hutan dengan penuh keputusasaan.

"Dia... harus segera, aku harus segera memanggilnya...!"

Di dalam benaknya yang terbakar oleh rasa cemas, ia terus membayangkan sosok dia—sebuah legenda tentang seorang ksatria tertentu.

Orang-orang menjulukinya, Sang Barbar Tuan Sid.

Sosoknya yang diwariskan dalam legenda dunia adalah pria yang kejam, dingin, dan tak berperasaan. Seorang ksatria yang bahkan tidak layak disebut sebagai seorang ksatria.

Namun, sosok asli Sid yang didengar si "pemuda" dari ayahnya sejak kecil adalah──

"............"

Kini, di masa yang sudah sangat jauh berlalu──sekitar seribu tahun yang lalu di Era Legenda. Seorang Raja Pahlawan terbesar di era tersebut, Raja Suci Alsur, dikisahkan telah menyatukan benua yang kacau balau akibat perang, menahan invasi Raja Iblis, dan menyelamatkan dunia.

Dalam keluarga Kerajaan Calvania yang memiliki Raja Suci Alsur sebagai leluhurnya, terdapat sebuah wasiat lisan yang ditinggalkan oleh Alsur sendiri untuk generasi mendatang──

Wahai anak-anakku. Wahai kalian yang menerima berkah dari Dewa Roh Cahaya, Eclair. Dengarkanlah baik-baik.”

“Suatu hari nanti, bencana besar akan menimpa kalian dan negeri kalian.

Namun, janganlah gentar. Kalian memiliki seorang ksatria yang akan melindungi kalian.

Dia tertidur dalam ketenangan, jauh di lubuk Hutan Shaltos yang suci.

Saat bencana menimpa kalian, saat kalian terdesak dan tak punya jalan keluar lagi...

Persembahkanlah darahmu pada nisan makamnya, dan panggillah namanya.

Panggillah nama asli dari ksatria serta bawahan setiaku. Panggillah nama dari sahabat yang paling kucintai itu.

Maka ia akan terbangun demi sumpah kuno, dan pastinya ia akan menjawab panggilanmu.”

Tiba-tiba, si "pemuda" tersadar dari lamunannya. Ia menarik tali kekang dan menghentikan kudanya. Sambil menenangkan kudanya yang meringkik keras dan mengangkat kaki depannya, si "pemuda" melompat turun dengan tangkas.

Di sana, di tengah hutan lebat yang ditumbuhi pepohonan tua, terdapat sebuah ruang terbuka yang luas. Tanah di situ membentuk bukit kecil, dan di puncak bukit itu, berdiri sesuatu yang berbentuk persegi panjang.

Tepat saat itu, kilatan petir menyambar di langit malam. Bersamaan dengan suara menggelegar yang menggetarkan udara, dunia seketika memutih selama sekejap.

Namun, cahaya putih yang menyilaukan itu terhalang oleh sesuatu yang berdiri di puncak bukit, menciptakan bayangan hitam panjang yang membentang tanpa batas, menyelimuti si "pemuda".

"......Ketemu...... Benar-benar ada......"

Si "pemuda" berjalan mendaki bukit menuju objek tersebut dengan perasaan yang setengah tak percaya.

Itu adalah sebuah makam. Melampaui waktu yang kekal, nisan yang tampak hampir hancur itu berdiri tegak dengan kesepian di atas bukit. Namun, nama yang terpahat pada batu nisan itu masih bisa terbaca dengan susah payah.

Sid Blamage.

Hanya nama ksatria legendaris itu saja yang masih bersinar terang dalam sejarah lama, entah sebagai pahlawan maupun pendosa──

"Wasiat lisan keluarga kerajaan dari Sang Leluhur Alsur... Sihir kebangkitan reinkarnasi..."

Si "pemuda" mencabut pedang rapier di pinggangnya, lalu menggenggam mata pedangnya dengan tangan kiri dan menariknya. Tangan kirinya teriris tipis, dan darah mulai merembes keluar. Sambil menyentuh batu nisan dengan tangan yang berlumuran darah itu, si "pemuda" berkata dengan nada memohon:

"Maafkan aku... aku tahu seharusnya aku tidak membangunkanmu dari tidurmu yang damai. Namun... saat ini, aku tidak punya pilihan lain selain bersandar padamu."

Darah yang merembes dari tangannya mulai mengalir, tersapu air hujan namun tetap meresap ke dalam permukaan batu nisan tersebut.

"Aku tahu ini permintaan yang egois... Tapi, kumohon, pinjamkanlah kekuatanmu saat ini!"

Si "pemuda" berlutut di depan batu nisan, menundukkan kepalanya, dan memanjatkan doa.

"Demi menyelamatkan negeri yang berada di ambang kehancuran ini! Kumohon, jawablah panggilanku...!"

Lalu──

"Garis keturunan dari Sang Leluhur Alsur, Alvin Nor Calvania, di sini memohon!"

Si "pemuda"──Alvin, merapalkan nama itu. Nama julukan sejati yang menunjukkan jati dirinya, yang kini telah lama hilang dari sejarah.

"Ksatria Cahaya Kilat Tuan Sid Blamage! Bangkitlah sekarang dari tidur panjangmu, dan penuhilah sumpah kuno itu!"

Bersamaan dengan teriakan itu── Kegelapan yang menyelimuti langit malam kembali terbelah oleh guntur yang seolah mengabarkan akhir dunia. Raungan petir dahsyat yang bercabang-cabang itu membelah angkasa berkeping-keping. Cahaya putih yang menyilaukan membakar mata, menghanguskan dunia dalam warna putih pekat──

............

Hingga akhirnya, cahaya itu mereda. Saat tirai kegelapan kembali menyelimuti dunia... di saat itulah.

"............"

Di hadapan Alvin yang sedang memanjatkan doa, hanya ada nisan makam yang tetap tegak berdiri tanpa perubahan apa pun.

Tidak ada yang terjadi. Tidak ada seorang pun yang menjawab panggilannya. Keheningan. Hanya suara gemuruh air dari hujan lebat yang mendominasi—sebuah keheningan yang hingar-bingar. Begitu menyadari kenyataan kejam itu...

"......Fu, fufu...... Tentu saja...... Ahaha, ahahaha......"

Alvin melepaskan tangan yang tadinya ia gunakan untuk berdoa, tubuhnya seketika lemas tak bertenaga.

"Pada akhirnya, wasiat hanyalah wasiat...... Mana mungkin ada sihir yang bisa membangkitkan orang mati......"

Dug...... Alvin menyandarkan dahi ke batu nisan, lalu memukulnya dengan lemah. Saat itulah, dari arah belakang, terdengar suara derap kaki kuda yang mendekat diikuti suara sesuatu yang berat jatuh terjerembap.

"!? "

Tanpa sadar Alvin bangkit berdiri, ia berbalik dan memasang kuda-kuda. Lalu, di kaki bukit yang ia lihat dari atas, tampak kuda miliknya sudah tewas ditebas dengan mengenaskan.

"Yo, Pangeran Alvin! Baru sebentar kita tidak bertemu, ya!? Kau sehat-sehat saja, kan?"

Di sana, berdirilah seorang ksatria yang mengenakan zirah hitam pekat, menunggangi seekor kuda hantu kegelapan. Ksatria itu memanggul pedang di bahunya, wajahnya yang tampak berandalan menyeringai lebar penuh kesenangan.

"Sudah saatnya kita akhiri main petak umpetnya, kan? Wahai Sang Pangeran?"

"Ksatria Kegelapan......!"

"Benar sekali, aku adalah Tuan Jiza dari Kultus Kegelapan Opus. Tak ada dendam pribadi, tapi akulah yang akan membunuhmu!"

Laki-laki itu──Jiza──melompat turun dari kuda hantu kegelapan dengan lincah sambil berbicara dengan nada mengejek. Kultus Kegelapan Opus adalah aliran sesat terlarang yang memuja Dewa Roh Kegelapan, Opus. Mereka adalah organisasi bawah tanah yang memiliki kekuatan tempur hebat yang disebut Ordo Ksatria Kegelapan; mereka jugalah yang konon menjadi dalang di balik segala kriminalitas di dalam negeri, mulai dari pembunuhan, penculikan, perdagangan budak, hingga transaksi narkoba.

Hari itu, Alvin sedang melakukan kunjungan resmi untuk menginspeksi wilayah sekitar Ibu Kota dengan dikawal oleh sedikit pengikut. Saat itulah, tiba-tiba pria ini──Ksatria Kegelapan Jiza──datang menyerang. Di hadapan kekuatan tempur Jiza yang luar biasa, para pengawal Alvin habis dibantai dalam sekejap. Alvin hanya bisa melarikan diri demi menyambung nyawa...... hingga pelariannya berakhir di tempat ini.

"Nah, permainan kejar-kejarannya sudah selesai. Sekarang, siapkan dirimu, Pangeran Alvin."

Meski bicaranya santai, Jiza memancarkan tekanan dan aura membunuh yang membekukan darah ke arah Alvin.

"Klienku menginginkan nyawamu. Maaf saja, aku tidak akan membiarkanmu lolos. Salahkan saja dewa atau nasib burukmu karena terlahir sebagai laki-laki di keluarga kerajaan pada zaman ini──"

Sesaat setelah pernyataan itu terlontar, Jiza berlari mendaki bukit dengan kecepatan layaknya karnivora yang mengejar mangsa, merangsek maju ke arah Alvin. Lalu, dengan momentum tersebut, ia mengayunkan pedangnya dari bawah dengan serangan tebasan ke atas.

Tak ada waktu untuk menghindar. Alvin secara refleks memasang kuda-kuda bawah—posisi Alber—dengan pedang rapier-nya, dan berbenturan langsung dengan serangan Jiza. Bilah pedang mereka saling beradu dengan keras. Mengingat perbedaan kemampuan di antara keduanya, fakta bahwa Alvin sempat menangkis serangan itu adalah sebuah keajaiban.

"──Kyaa!?"

Tubuh Alvin terangkat dan terpental akibat dampak benturan tersebut. Tubuh rampingnya menghantam lereng bukit sisi seberang berulang kali, lalu merosot jatuh ke bawah.

"Hmm?"

Sambil menatap ke arah Alvin, Jiza memiringkan kepalanya seolah menyadari sesuatu.

"Kau... baru saja mengeluarkan suara seperti perempuan, ya...?"

"......Ugh!?"

Alvin segera bangkit dengan menjadikan pedang rapier-nya sebagai tongkat, lalu menatap Jiza dengan sorot mata yang tak pantas menyerah. Namun, Jiza malah menatap balik Alvin dengan pandangan yang seolah menjilati seluruh tubuhnya.

Di bawah guyuran hujan, pakaian dan jubah Alvin basah kuyup hingga menempel ketat pada lekuk tubuhnya. Garis tubuh yang samar-samar terlihat itu, untuk ukuran seorang laki-laki, bukankah sedikit──?

"............"

Untuk beberapa saat, Jiza terus memandangi tubuh Alvin dengan sangat tidak sopan. Namun, tak lama kemudian ia sepertinya yakin akan sesuatu. Jiza pun tersenyum cabul dan berkata:

"Ah, jangan-jangan, wahai Pangeran? Kau... mungkinkah, rahasianya seperti itu?"

"A-Apa... maksudmu...!?"

Alvin membentak, bersikap seolah-olah ia benar-benar tidak mengerti apa yang dibicarakan Jiza. Akan tetapi, Jiza tidak melewatkan sekelibat keraguan yang melintas di ekspresi wajah Alvin dalam sekejap mata tadi.

"Hyahahahaha! Aku benar-benar terkejut! Ini benar-benar kejadian yang belum pernah terdengar sebelumnya, ya kan, Pangeran!? Yah, meski bagiku tidak ada hubungannya, sih? Karena keputusanku untuk membunuhmu sudah bulat!"

"......!?"

"Tapi──sebelum aku menghabisimu, sepertinya aku bisa menikmati banyak hal dulu darimu, eh?"

Pada saat itu, sorot mata dan ekspresi Jiza saat menatap Alvin berubah drastis. Dari mata seorang pembunuh bayaran yang kejam, menjadi mata seorang pemburu yang mengincar mangsa paling berharga.

Melihat mata Jiza yang menatapnya sambil membasahi bibir, Alvin tidak bisa menahan rasa takut insting dan rasa jijik yang luar biasa.

"Tadinya kukira ini tugas yang sangat membosankan, tapi ternyata aku dapat bonus yang tak terduga! Hyahahahaha!"

"......Ugh, uu......!?"

Tubuh Alvin yang sedari tadi berusaha tegar, kini gemetar hebat tanpa bisa ia kendalikan. Tepat di depan mata dan hidungnya, sebuah akhir yang lebih menyakitkan dari kematian—akhir yang kejam dan menghinakan—telah menunggu. Keyakinan dan rasa putus asa itu membuat Alvin merasa seolah pandangannya jatuh ke dalam kegelapan yang pekat.

Namun, meskipun begitu... ia tidak boleh menyerah.

"A-aku......"

Dengan tangan yang gemetar, ia memasang kuda-kuda dengan pedang rapier-nya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menelan rasa takutnya. Meskipun hal itu mungkin hanya akan membawanya pada keputusasaan yang lebih dalam dan akhir yang lebih tragis. Ia──harus bertarung. Karena ia telah bersumpah. Untuk melindungi negeri ini. Untuk mengubahnya. Sumpah kepada mendiang Ayahandanya──

"......AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA──!"

Ia meraung seolah sedang mencambuk dan membakar semangat di hatinya yang lemah. Alvin pun mulai berlari mendaki bukit menuju pria itu dengan pedang yang terhunus──

 

 

──Tidak ada apa pun. Sampai detik ini, pada pria itu, tidak ada apa pun. Tidak ada hati atau tubuh untuk merasakan sesuatu, tidak ada kesadaran untuk memikirkan sesuatu.

Nihil. Gelap. Nol. Kosong. Putih. Hampa.

Menjadi sebuah konsep yang tak kasat mata, pria itu hanyalah "sesuatu" yang melayang dan berkelana selamanya di dalam kehampaan. Namun, secara tiba-tiba, seseorang memanggil namanya. Pria yang tadinya hanyalah kehampaan itu pun mulai mengalami perubahan.

──Sid──

Berkat dipanggilnya nama yang amat dirindukan itu, pria yang tadinya hanyalah konsep hampa mulai memiliki garis bentuk. "Ego" dirinya mulai terbentuk. Dan ketika ia tersadar──

"……Hm? Di mana ini?"

Pria itu──Sid──berdiri di sebuah ruang yang aneh. Di sana, tak ada warna maupun suara. Sebuah dunia sunyi yang hanya terdiri dari hitam dan putih monokrom. Langit yang gelap gulita. Hujan lebat yang mengguyur tanpa henti. Di sekelilingnya membentang dataran luas yang sunyi, dengan perbukitan yang menyambung hingga ke kaki cakrawala. Di atas tanah, mayat para ksatria yang tak terhitung jumlahnya bertumpuk satu sama lain, memanjang hingga ke ujung ufuk. Pedang, tombak, dan bendera perang yang tertancap di seluruh area itu tampak bagaikan nisan makam bagi mereka.

Sesekali, kilatan petir yang merembes keluar dari retakan langit menyinari nisan-nisan tersebut dari balik kegelapan.

"……Bekas medan tempur……?"

Ia berpikir bahwa ini adalah dunia yang sangat sepi. Dunia yang mati, tanpa ada satu pun makhluk hidup. Dunia yang stagnan, di mana waktu telah menghentikan langkahnya. Namun, entah kenapa Sid merasa yakin bahwa tempat inilah dunianya yang sebenarnya──dunia yang seperti ini.

Di tengah pemandangan kehancuran itu, hanya ada satu pengecualian.

"…………"

Di dalam dunia yang hitam-putih, tampak seorang pemuda yang tetap memiliki warna, berdiri mematung membelakangi Sid. Pemuda itu memiliki rambut pirang selembut sutra dan punggung yang tampak gagah berwibawa dalam balutan jubah yang mewah. Saat Sid tertegun menatap punggung itu──

"……Tuan Sid. ……Kau sudah bangun, ya."

Tiba-tiba, pemuda itu berbicara tanpa membalikkan badannya. Seketika, perasaan aneh membuncah di dalam dada Sid. Perasaan yang mirip dengan rasa rindu yang mendalam.

"Suara itu…… Kau, Alsur kah?"

Mendengar pertanyaan Sid, pemuda itu pun berbalik dengan perlahan. Wajah tampan sang pemuda yang tampak menyimpan duka kini terpampang jelas di hadapan Sid.

"Sudah lama sekali ya, Sid..." "Ya, Alsur. Aku senang bisa bertemu denganmu."

Di hadapan sahabat yang sudah sekian lama terpisah darinya, Sid menyunggingkan senyum penuh kerinduan. Namun, di saat yang sama, ia bertanya dengan nada bingung kepada pemuda itu—Alsur.

"Tapi, aku... aku seharusnya sudah mati setelah kau tebas. Lalu, kenapa aku bisa ada di tempat seperti ini?"

Bukannya menjawab pertanyaan Sid, wajah Alsur justru tampak layu karena duka saat ia melanjutkan bicaranya.

"……Maaf, aku tidak punya banyak waktu. Akan kusampaikan dengan singkat. Tuan Sid, aku ingin kau bangkit kembali ke dunia nyata, dan menjalani kehidupanmu yang kedua." "Hah? Apa katamu? Kehidupan kedua?" "Di dunia nyata, seribu tahun telah berlalu sejak kematianmu. Di sana, aku ingin kau melayani keturunanku yang hidup di zaman itu sebagai seorang ksatria. ……Tolong lindungilah dia."

"……Hm? Kau memintaku untuk mendongak dan menghormati raja atau majikan selain dirimu?"

Sid memejamkan matanya, sejenak hanyut dalam pikirannya sendiri. Tak lama kemudian, ia membuka mata, lalu menunduk dengan tatapan yang sedikit kesepian sambil menggelengkan kepala.

"Tidak. Maafkan aku, Alsur. ……Meski ini permintaanmu, aku tidak bisa melakukannya."

Ia menatap dunia sunyi di sekelilingnya dengan pandangan yang jauh, lalu berujar:

"Aku tidak tertarik pada kehidupan kedua. Aku sudah menjalani hidupku dengan sepenuh hati. Meskipun akhirnya harus berakhir seperti itu, aku tetap bisa menuntaskan jalan ksatriaku sampai akhir. Aku tidak punya penyesalan." "……Sid." "Lagi pula…… apa yang harus kulakukan di dunia yang tidak ada dirimu di dalamnya?"

Sid mengedikkan bahunya, seolah sedang bersenda gurau.

"Kau tahu sendiri, kan? Aku ini terlahir sebagai iblis. Pria sepertiku ini bisa punya alasan untuk mengayunkan pedang, itu semua karenamu. Karena ada kaulah, aku bisa tetap menjadi seorang ksatria. Karena kau ada di sisiku, maka aku……"

Lalu, Sid menatap Alsur dengan lurus.

"Pokoknya, aku adalah ksatria milikmu seorang. Aku tidak berniat mempersembahkan pedangku pada majikan selain dirimu. ……Maaf, tapi biarkan aku tidur dengan tenang seperti ini."

Setelah berkata demikian, Sid bersiap untuk memejamkan matanya kembali. Akan tetapi...

"Tapi, meskipun begitu, aku memohon padamu, Tuan Sid…… aku tidak punya pilihan lain selain bersandar padamu."

Mendengar penolakan Sid, Alsur berkata dengan nada memohon. "Jika kau masih mengakuiku yang bodoh ini sebagai majikanmu, kumohon, jalanilah hidup sekali lagi. Tolonglah keturunanku... anak yang saat ini tengah memanggilmu."

"............"

"Sejujurnya, aku pun ingin membiarkanmu tidur dengan tenang seperti ini. Namun... hanya anak itu yang harus dilindungi sampai akhir... demi dunia ini juga."

"............"

"Aku tidak memintamu sampai harus bersumpah setia. Hanya saja, tolong lindungilah dia. Anak itu adalah harapan bagi dunia ini. Karena itu──..."

Sid menatap Alsur yang tampak seolah akan menangis kapan saja itu untuk beberapa saat. Tak lama kemudian, ia menyunggingkan sudut bibirnya dan tersenyum tipis.

"……Oi, oi. Jangan tunjukkan wajah menyedihkan begitu, kau itu orang yang menyandang gelar majikanku, tahu."

"Sid……?"

"Hahaha. Baiklah, aku mengerti, Sahabatku. Kalau kau sampai bicara sejauh itu, aku tidak punya alasan untuk menolak."

Sid menyeringai seperti bocah nakal sambil melirik sekilas ke arah mantan majikannya itu.

"Jika itu yang kau inginkan dariku──maka aku hanya perlu mempertaruhkan segalanya untuk menuntaskannya. Karena, aku adalah ksatriamu."

"Te-terima kasih, Sid……"

"Tapi, Alsur."

Kepada Alsur yang wajahnya kini penuh dengan rona kegembiraan, Sid berkata dengan nada santai:

"Maaf saja, tapi biarkan aku yang menilainya sendiri nanti. Apakah keturunanmu itu benar-benar raja yang layak bagi pedangku atau tidak──"

 

 

Tepat saat itu.

Sebuah kilat yang jauh lebih kuat dari sebelumnya menyambar nisan yang berdiri di atas bukit, membelah kegelapan malam menjadi dua. Hantaman petir itu membuat nisan hancur berkeping-keping diiringi suara menggelegar yang dahsyat. Tanah di sekitarnya hangus terbakar.

Dunia memutih seketika dalam cahaya yang sangat panas──

Hingga akhirnya, saat cahaya itu mereda──tampak sesosok bayangan manusia yang diselimuti sisa-sisa kilatan petir. Usianya mungkin sekitar awal dua puluh tahun. Berambut hitam dan bermata hitam. Tubuhnya ramping namun memiliki kerangka yang kuat. Sosok pria yang mengenakan pakaian ksatria kuno yang sederhana namun klasik itu──

"Nah──di mana gerangan tempat aku harus menitipkan pedangku di kehidupan kali ini?"

Sambil menggumamkan hal itu dengan penuh tenaga, pria itu──Sid──membuka matanya. Lalu, dengan suara basari, ia mengibaskan jubahnya dan bangkit berdiri.

"……Eh!?"

Alvin tertegun, seolah jiwanya melayang melihat sosok pria yang tiba-tiba muncul di atas bukit bersamaan dengan sambaran petir. Saat ini, Alvin berada dalam kondisi tubuh yang remuk redam, kerah bajunya dicengkeram oleh Jiza, dan ia bergantung lemas tak berdaya di udara... Namun, pada momen ini, segala rasa sakit itu lenyap begitu saja dari kepalanya.

"A-apa itu……?"

Jiza, yang sedari tadi sudah membasahi bibirnya siap menghabisi Alvin, kini kesadaran dan pandangannya teralihkan sepenuhnya oleh pria yang mendadak muncul itu.

"…………"

Pria yang dimaksud tampak sedang mengepalkan dan membuka jemarinya di atas bukit, seolah sedang memastikan sesuatu pada tubuhnya. Namun, tak lama kemudian ia mulai mengamati keadaan sekitar dan menyadari keberadaan Alvin serta Jiza.

"Siapa kau, keparat!? Da-dari mana kau muncul, hah……!?"

Mengabaikan gertakan Jiza, pria itu menatap tepat ke arah mata Alvin. Lalu, di saat pria itu menyipitkan matanya seolah menyadari sesuatu──pada detik berikutnya.

Futt! Tiba-tiba saja sosok pria itu menghilang.

"E──"

Dalam sekejap, tubuh Alvin terasa ditarik dengan sentakan kuat. Untuk sesaat, Alvin merasa tubuhnya seolah tertangkap oleh gravitasi nol, sementara pemandangan di sekitarnya mengalir deras bagaikan arus jeram. Begitu ia tersadar.

"……Kau tidak apa-apa?"

"A……"

Alvin sudah berada di dalam dekapan pria itu, digendong dengan gaya bridal style.

"A-apa-apaan gerakan tadi itu……!? C-cepat sekali……!?"

Jiza yang berteriak kebingungan itu kini berada belasan meter jauhnya. Meskipun pria itu sedang mendekap Alvin, namun ia tidak menunjukkan sedikit pun celah maupun kelengahan; matanya terus mengunci Jiza dengan tajam. Dan kemudian──

"A-ah, panas!?"

Alvin tiba-tiba merasakan sensasi panas yang membakar di punggung tangan kanannya. Ketika ia melihatnya, sebuah lambang berbentuk pedang muncul dan bercahaya panas di sana.

"Kau yang memanggilku, kan?"

Pria itu berujar kepada Alvin sambil menunjukkan punggung tangan kanannya sendiri. Di tangan kanan pria itu pun, lambang pedang yang sama dengan milik Alvin tampak muncul ke permukaan. Melalui lambang tersebut, Alvin bisa merasakan sesuatu seperti jalur spiritual (path) yang menghubungkan dirinya dengan pria itu.

"A-anu...!? Anda adalah...!?"

Masih dalam dekapan sang pria, Alvin bertanya dengan terbata-bata.

"Heh, Anak Muda. Saat bertanya nama seseorang, bukankah seharusnya kau memperkenalkan diri duluan? Benar, kan?"

"Ugh... I-iya! Maafkan saya!"

Sambil mengecilkan tubuhnya karena merasa sungkan, Alvin pun memperkenalkan diri.

"Aku adalah Alvin... Garis keturunan Sang Leluhur Alsur, Alvin Nor Calvania..."

"Alvin, ya. ...Begitu, nama yang cukup bagus."

Lalu, sambil menyeringai, Sid pun balas memperkenalkan dirinya.

"Namaku Sid. Sid Blamage. Ksatria pertama dari Raja Suci Alsur yang agung."

"A-Anda benar-benar Sid... Tuan Sid yang legendaris itu...? Benarkah...?"

Menanggapi keraguan Alvin, Sid melemparkan senyum tenang ke arahnya.

"Ya, benar. Aku datang memenuhi panggilanmu. ...Pria itu, musuhmu kan?"

Sid melirik sekilas ke arah Jiza yang masih berdiri terpaku kebingungan belasan meter di depan mereka.

"……I-iya! Dia musuh... tapi..."

"Kalau begitu, mundur sana. Biar segera kubereskan dia."

Setelah berkata demikian, Sid pun menurunkan Alvin dari gendongannya.

Alvin, yang kakinya lemas tak bertenaga akibat luka-luka yang parah, akhirnya terduduk lemas di tanah. Sid kemudian melangkah maju, seolah ingin melindungi Alvin dengan punggungnya.

"Aku yang akan melindungimu."

"Te-terima kasih banyak... tapi, itu, anu...!"

Dari belakang punggung Sid, Alvin berteriak dengan nada cemas.

"Berhati-hatilah! Musuhmu adalah Ksatria Kegelapan... dia sangat kuat...!"

Namun, untuk menenangkan Alvin, Sid menjawab dengan mantap.

"Heh, tenang saja. Aku juga lumayan kuat, kok."

Sambil terus melindungi Alvin di belakangnya, Sid pun berdiri tegak berhadapan dengan Jiza.

"Cih..."

Di hadapannya, Jiza berdecak lidah dengan kewaspadaan yang tampak jelas. Suasana santainya sudah hilang tak berbekas, digantikan oleh sorot mata seorang pejuang yang siap membunuh musuhnya dengan dingin. Meski menerima tatapan tajam seperti itu, Sid tidak sedikit pun goyah atau merasa gentar.

"Kau... sebenarnya muncul dari lubang mana, hah?"

Sid menanggapi pertanyaan Jiza hanya dengan keheningan.

"Tapi, bicara soal nama, kau sombong sekali, ya? Sid? Bukankah itu nama ksatria yang berjaya di Era Legenda seribu tahun yang lalu?"

"............"

"Ksatria terkuat yang mengayunkan dua pedang tak tertandingi dan melampaui Tiga Ksatria Agung──Sang Barbar Sid yang kejam dan tak berperasaan. Menggunakan nama itu benar-benar menunjukkan kau terlalu percaya diri!"

Mendengar kata-kata Jiza itu...

"Hahahaha!"

Sid tertawa, seolah-olah hal itu sangat lucu baginya.

"Kejam dan tak berperasaan? Sekarang aku dipanggil seperti itu? Benar-benar mahakarya! Meninggalkan nama dalam sejarah memang sebuah kehormatan bagi ksatria, tapi memiliki nama buruk ternyata juga terasa cukup menyenangkan!"

"Hah! Teruslah membual──! Makan ini, Yeats! Cabik dia, Slatz!"

Pada saat itu, Jiza yang tidak sabar melihat sikap santai Sid mulai bergerak. Sambil meneriakkan sesuatu dalam bahasa roh kuno, ia mengangkat pedangnya dan menebas Sid secepat angin. Sebuah tebasan diagonal tajam dari arah kiri atas—posisi Vom Tag.

Sid bereaksi dengan santai, menggerakkan tubuhnya untuk menghindar, namun──

"──gh!?"

Crat! Percikan darah membubung ke udara. Padahal tebasan itu seharusnya meleset dengan sempurna, namun dada Sid tampak teriris secara diagonal.

"Tuan Sid!?"

"Hahaha! Rasakan itu──!?"

Jeritan pilu Alvin dan tawa mengejek Jiza pecah bersamaan. Dan kemudian──

"Hyahahahahahahahahaha──! Kita mulai, eh!?"

Serangan membabi buta Jiza pun dimulai. Tebasan ke atas, ayunan menyamping, serangan memutar──ia menyerang Sid bagaikan badai. Ujung pedangnya berkilat secepat kilat, namun Sid masih mampu menghindar dengan tepat lewat pembacaan jarak yang sangat tipis.

Akan tetapi──

Crat! Cra-crat!

Entah mengapa, tubuh Sid terus teriris, dan bunga-bunga darah bermekaran satu demi satu dari luka-lukanya.

"Ada apa, ada apa!? Hyahahahahahahaha──!?"

"──gh!?"

Pedang Jiza menderu layaknya pusaran angin dalam belasan kilatan serangan. Di sela-sela jeda tarian pedang itu, Sid melompat mundur untuk mengambil jarak dari Jiza, kembali ke posisi tepat di samping Alvin.

"Tu-Tuan Sid……!"

"…………"

Di mata Alvin yang penuh kecemasan, terpantul sosok Sid yang kini tampak mengenaskan dengan tubuh penuh luka irisan dalam waktu singkat. Kepada Sid, Jiza berkata dengan nada jumawa:

"Hah! Kau terlalu lemah. Dengan kemampuan seperti itu kau berani mengaku sebagai Sid yang legendaris?"

Tanpa memedulikan ejekan itu, Sid berujar:

"……Begitu ya. Pedangmu itu…… apakah itu Pedang Roh?"

"Jawaban yang tepat……"

Menanggapi ucapan Sid, Jiza menyeringai lebar. Ia memamerkan pedangnya yang memiliki bilah bergelombang yang tampak mengerikan. Dari bilah itu, kegelapan pekat merembes keluar, menetes layaknya tetesan air.

"Pedang Roh Hitam: Kekerasan. Dan Sihir Roh Kegelapan: Bilah Bayangan──aku bisa menebas area di luar jangkauan pedangku dengan melontarkan bilah yang tercipta dari bayangan dalam kecepatan tinggi. Kalau aku mau..."

Wush! Jiza mengayunkan pedangnya dengan santai. Seketika, slash! Sebuah garis hitam menjalar di tanah, melewati sisi tubuh Sid dan meninggalkan bekas tebasan lurus hingga jauh ke belakang.

"Dari jarak sejauh ini pun, menebas lehermu itu perkara gampang."

Mendengar perkataan Jiza, Alvin merasa ngeri. (Sial, di tengah kegelapan malam begini, bilah bayangan itu hampir tidak terlihat... Sihir Roh macam apa itu!?)

Semua ksatria di dunia ini memiliki senjata khusus yang disebut Pedang Roh. Senjata itu adalah perwujudan dari para Roh yang bersemayam dalam segala hal di dunia ini. Pedang tersebut mampu meningkatkan kemampuan fisik serta penyembuhan diri penggunanya, sekaligus memberikan kekuatan untuk mengendalikan "konsep" yang diwakili oleh masing-masing Roh.

Kekuatan itulah yang disebut Sihir Roh. Melalui Pedang Roh mereka, seorang ksatria dapat merapalkan Sihir Roh. Inilah alasan utama mengapa seorang ksatria memiliki kemampuan tempur yang jauh melampaui prajurit biasa.

(Dilihat dari kekuatan Sihir Roh yang pria itu gunakan, tingkat kualitas pedangnya pasti sangat tinggi...) batin Alvin sambil menatap tajam ke arah pedang Jiza.

(Pedang Roh hanya bisa dilawan dengan Pedang Roh... Tapi, Tuan Sid adalah ksatria yang dijuluki terkuat di Era Legenda... pedangnya pasti adalah sesuatu yang sangat hebat dan luar biasa!)

Ksatria terkuat di Era Legenda pastilah memiliki Pedang Roh terkuat yang pernah ada. Alvin yakin, asalkan pedang itu ada, Sid pasti bisa melawan Jiza.

"Tuan Sid! Gunakanlah Pedang Roh yang dulu Anda gunakan!" teriak Alvin dengan penuh harap sambil menatap punggung Sid.

"Ksatria dan Pedang Roh adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan! Jika Anda memanggil namanya, pedang itu akan melintasi ruang dan muncul di hadapan Anda! Cepat, panggillah pedang Anda! Dengan begitu──"

Namun, Sid malah menjawab dengan wajah tanpa dosa.

"Pedang Roh? Aku tidak butuh barang seperti itu."

"……Hah?"

Di depan Alvin yang mendadak terkelu, Sid dengan santai melepas jubahnya yang sudah robek-robek dan membuangnya. Lalu, Sid mengulurkan tangan ke pinggang Alvin. Ia menarik keluar belati cadangan milik Alvin yang tergantung di sana, lalu mulai memainkannya dengan satu tangan.

"Untuk sekarang, ini saja sudah cukup."

"Apa...!?"

Melihat tindakan aneh Sid, Alvin berteriak sambil berusaha memegangi Sid dengan putus asa.

"Tunggu... itu cuma belati biasa yang tidak punya kekuatan apa-apa, tahu!?"

"Aku tahu. Karena itulah, ini bagus."

"Ja-jangan bercanda! Cepat panggil Pedang Roh Anda! Kalau tidak, Anda bisa terbunuh!?"

Namun, Sid tampaknya benar-benar berniat bertarung hanya dengan belati kecil itu. Ia sama sekali tidak memanggil Pedang Roh; ia hanya membiarkan belati itu tergantung lemas di tangannya sambil menatap Jiza dengan tenang.

"Ta-tak mungkin... Anda... serius...?"

Tentu saja, Alvin hanya bisa melongo tak percaya...

"Gyahahahahahahahahahahahaha──!"

Gelak tawa Jiza menggema di medan tempur.

"Mau pamer apa kau, hah!? Bodoh mana yang berani melawan Pedang Roh cuma pakai belati biasa, lalu mengaku-ngaku sebagai 'Sid' yang legendaris!? Gyahahahahaha──!"

"............"

Sid hanya diam menerima ejekan tersebut.

"……A-aaaaa……!"

Seketika itu juga, Alvin diserang rasa penyesalan yang mendalam. (Bodohnya aku... aku terlalu berharap banyak...! Aku pikir kalau aku bisa memanggil Tuan Sid yang legendaris, semuanya akan beres... aku terlalu ingin percaya pada hal itu!)

Sid, ksatria yang dijuluki terkuat di Era Legenda. Namun kenyataannya, di depan matanya sekarang hanyalah seorang ksatria kelas tiga yang bahkan tidak paham logika dasar pertarungan antar ksatria.

(Tidak bisa dipercaya... melawan Pedang Roh dengan belati biasa! Orang tidak waras begini adalah Tuan Sid...? Jadi akhirnya legenda hanyalah sekadar legenda belaka...!?)

Legenda Tuan Sid yang diwariskan dalam keluarga kerajaan—kekagumannya sejak kecil telah membutakan penilaiannya. Seharusnya ia tidak mengandalkan orang dari masa lalu. Seharusnya ia membiarkan pria ini tertidur dengan tenang.

Saat Alvin tenggelam dalam penyesalan yang mendalam── Puk. Sebuah tangan mendarat dengan lembut di atas kepalanya. Usap, usap. Alvin merasakan sentuhan lembut yang mengacak rambutnya dengan kasih sayang.

"……Tuan Sid……?"

Alvin mendongak, dan melihat Sid tengah menatapnya dengan senyum penuh percaya diri sambil mengelus kepalanya. Kemudian, Sid berujar:

"Seorang ksatria hanya mengatakan kebenaran. ……Bukankah sudah kubilang? Aku akan melindungimu."

"……Eh? A……"

Tanpa memedulikan Alvin yang masih tertegun, Sid kembali melangkah maju. Aneh rasanya. Padahal Sid akan melakukan tindakan yang sangat ceroboh—melawan ksatria pemegang Pedang Roh hanya dengan belati biasa. Namun... Alvin merasa punggung yang melindunginya itu tampak begitu besar dan kokoh.

"Tapi ya, maafkan aku. Sepertinya aku sudah membuatmu merasa cemas."

"Eh?"

"Sepertinya tubuhku yang sekarang…… masih jauh dari kondisi prima. Mungkin efek samping dari kebangkitan reinkarnasi ini, ya? Kekuatan ototku lemah, dan Mana yang mengalir di tubuhku juga sangat sedikit. Gara-gara itu, pergerakan dalam imajinasiku dan gerakan nyata tubuhku tidak sinkron sama sekali."

Lalu, di depan Alvin yang masih mengerjapkan mata kebingungan, Sid membuat deklarasi:

"Tapi, tidak masalah. ……Aku sudah terbiasa sekarang."

"Terbiasa……? Apa yang Anda bicarakan……!?"

Tanpa menjawab pertanyaan Alvin, Sid memasang kuda-kuda dengan belatinya ke arah Jiza. Melihat Sid yang masih saja menunjukkan ketenangan yang misterius, Jiza akhirnya mulai merasa jengkel.

"Cih…… lama-lama leluconmu sudah tidak lucu lagi. ……Dasar cecunguk halu, sok-sokan berlagak jadi ksatria hebat……"

Begitu Jiza meludah dan mengumpat, keberadaan dan tekanan darinya semakin membengkak pada detik berikutnya. Aura membunuh yang luar biasa dahsyat meledak dari seluruh tubuhnya, menghantam Sid dan Alvin dengan keras.

(Bohong!? Pria itu, jadi selama ini dia belum serius!?)

Menyadari kenyataan mengerikan yang membuat kulitnya merinding itu, wajah Alvin menjadi pucat pasi──

"Akan kuperlihatkan neraka padamu, AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA──!"

Dalam sekejap, Jiza mengayunkan pedangnya dan melepaskan Bilah Bayangan.

Di tengah kegelapan ini, serangan yang hampir tak kasat mata itu melesat secepat kilat mengincar leher Sid.

"……Ah."

Pada detik berikutnya, Alvin yakin yang akan melayang dan berguling di tanah adalah kepala Sid. Ia sudah membayangkan masa depan terburuk itu... Namun, pemandangan yang terbentang di depannya benar-benar di luar dugaan.

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA──!"

Justru sosok Jiza-lah yang terpental, berguling-guling dengan mengenaskan seperti roda yang berputar vertikal.

"……Eh?"

Tanpa sadar, Alvin menggumamkan suara kebingungan. Dan kemudian──

"…………"

Di sana, berdirilah sosok Sid yang entah kapan sudah merangsek masuk ke dalam jarak serang Jiza. Ia berdiri tegap dengan posisi Zanshin—mempertahankan kewaspadaan penuh—setelah mengayunkan belatinya. Penampilannya yang gagah berwibawa itu tampak begitu indah, seolah-olah satu cuplikan adegan dari lukisan ksatria yang megah.

"Gahak! Geho, goho! Ka-kau... apa yang kau lakukan tadi...!?"

Sambil memuntahkan darah, Jiza berusaha bangkit berdiri dengan sempoyongan.

"Aku cuma memukulmu dengan sisi datar belati ini, kok."

Sid bergumam seolah heran kenapa Jiza harus menanyakan hal sejelas itu.

"Mustahil...! Kau, kapan kau masuk ke dalam jarak serangku!? Padahal pedangku menyerang sepenuhnya dari luar jangkauanmu...!"

"Yah, kalau kau melontarkan serangan tanpa variasi atau tipuan seperti itu, sambil merem pun aku bisa menghindarnya."

"……Hah……?"

"Kau ini... paling-paling cuma Squire (Ksatria Magang) yang baru belajar pegang pedang, kan? Kau kelihatannya sombong sekali setelah memegang Pedang Roh, tapi tahu tidak? Ilmu yang setengah-setengah itu hanya akan mencelakai dirimu sendiri. Menyerahlah cepat sebelum kau mati."

Kata-kata Sid itu sama sekali tidak mengandung nada provokasi atau penghinaan; itu murni sebuah nasihat. Namun──

"Ka-keparat...! Siapa yang kau sebut Squire, jangan bercanda...!"

Hal itu sudah lebih dari cukup untuk mengoyak harga diri Jiza dalam-dalam.

"Mampuslah kau, AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA──!"

Jiza menghentakkan kaki ke tanah dan melesat menerjang Sid. Berniat membelah kepala Sid menjadi dua, ia mengayunkan pedangnya dengan ganas dari posisi atas—Vom Tag──

"Hup──!"

Namun, Sid dengan lincah mencuri jarak, menangkis pedang Jiza dengan gerakan ringan menggunakan belatinya, lalu di saat yang sama ia menghantamkan sisi datar belati itu tepat ke wajah Jiza dengan telak.

"Gyak!?"

Bruk! Akibat benturan yang terasa sangat berat dari belati itu, Jiza menjerit dan terlempar ke belakang. Kekuatan yang sulit dipercaya. Bagaimana mungkin belati sekecil dan seringan itu bisa menghasilkan daya hancur sehebat itu?

"──Nah, sekarang giliranku, ya?"

Dan kemudian──kali ini Sid yang bergerak duluan. Kejadian setelahnya seolah-olah pengulangan dari pemandangan tadi. Hanya saja, posisi Sid dan Jiza tertukar; sebuah pertarungan satu arah yang bahkan tidak layak disebut sebagai pertarungan.

Sid bergerak dengan kecepatan tinggi hingga menciptakan bayangan semu di sekitar Jiza sambil terus mengayunkan belatinya. Setiap serangannya berhasil melewati pertahanan Jiza dan menghantam tubuh pria itu dengan bunyi plak yang tajam. Kepala, lengan kanan, kaki kiri, batang tubuh, bahu kanan, lengan kiri, tulang kering kanan, punggung, pinggang──

Bagaikan boneka kayu latihan, teknik-teknik Sid masuk, masuk, masuk, masuk, dan terus masuk tanpa henti──

Setiap kali serangan mendarat, tubuh Jiza tersentak ke arah yang tidak wajar, menari-nari dengan konyol di udara.

"Guaaaaaaakh!? Sakit woi!? GYAAAAAAAAAAAA──!"

Jiza mencoba membalas dengan melepaskan Bilah Bayangan secara membabi buta, namun serangan itu bahkan tidak bisa menggores Sid yang bergerak layaknya badai. Ia hanya mampu menebas bayangan kosong Sid dengan sia-sia.

"Bohong... bagaimana bisa...?"

Alvin bergumam tak percaya menyaksikan pemandangan itu.

"Seharusnya kekuatan Pedang Roh hanya bisa dilawan dengan Pedang Roh juga...!"

Bukan, itu salah. Sejak awal standarnya memang sudah berbeda. Memiliki Pedang Roh saja tidak akan membantu jika ada perbedaan kemampuan yang sangat masif seperti ini... Hanya itu kenyataannya.

"He-hebat sekali..."

Dengan rasa kagum yang mendalam, seolah sedang menatap sosok yang ia dambakan, Alvin terus memandang ke arah Sid. Melihat pergerakan Sid dan teknik pedangnya yang luar biasa, hati Alvin bergetar hebat.

"Inilah... inilah ksatria yang hidup di Era Legenda!?"

Legenda dan kisah Tuan Sid yang terus ia dambakan sejak kecil, yang ia dengar dari mendiang Ayahandanya... Semuanya──ternyata benar-benar nyata. Kegembiraan dan kekaguman yang membuat jantung berdebar, persis seperti saat pertama kali ia mendengar kisah Sid, kini menguasai seluruh dada Alvin. Alvin ingin melihat lebih banyak lagi sosok legendaris itu... ia terus menatap pertarungan Sid dengan perasaan terpaku.

Dan tak lama kemudian──atau lebih tepatnya, dalam sekejap. Pertarungan kedua ksatria itu mencapai puncaknya.

"──Hancur!"

"GUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA──!"

Guling, guling, guling! Akibat satu tebasan ke atas dari sisi kanan Sid, Jiza terpental jauh dan berguling-guling dengan mengenaskan.

"Nah, menyerahlah. Seorang ksatria tidak seharusnya mencabut nyawa sembarangan," ujar Sid dengan datar sambil menatap Jiza yang terkulai lemas.

"Gahak, geho... ku-kuat sekali...! Apa-apaan kekuatan ini... a-aku tidak percaya...!?"

Dengan sempoyongan, Jiza bangkit berdiri menggunakan pedangnya sebagai tongkat.

"Sial... Kalau dipikir-pikir, aku pernah dengar rumornya... Ksatria yang tertidur di Hutan Shaltos... Jangan-jangan, kau benar-benar si Sang Barbar Tuan Sid itu!? Kau bangkit kembali!? Jangan bercanda... sihir macam apa yang kau pakai, hah!? Geho!"

"……Entahlah? Aku pun ingin tahu jawabannya."

Sebaliknya, Sid mengintimidasi Jiza hanya dengan kewibawaannya yang tenang. Jiza yang mentalnya sudah benar-benar jatuh hanya bisa mundur dengan langkah gemetar.

"Ki-ha, kehahaha... aku menyerah, aku menyerah... Kalau kau benar-benar si Sang Barbar yang punya reputasi buruk itu, orang sepertiku mau jungkir balik pun tak akan bisa menang..."

Lalu, sambil bercucuran keringat dingin, ia menyeringai dengan licik.

"Tapi, kau kurang teliti, ya...!"

Slash! Tiba-tiba Jiza kembali mengayunkan pedangnya. Bilah Bayangan pun tercipta. Namun, serangan yang membelah air hujan itu tidak melesat ke arah Sid, melainkan──

"……Ah!?"

Serangan itu mengincar Alvin. Terhadap Bilah Bayangan yang mendekat dengan kecepatan tinggi dan tak kasat mata itu, Alvin bahkan tidak sempat bereaksi──

Crat! Bunga darah kembali memercik.

"Tu-Tuan Sid……!"

"……gh!"

Sid, yang bergerak secepat angin, merangsek masuk melindungi Alvin dan menerima Bilah Bayangan itu tepat di punggungnya.

"Hehehe!? Keadaan berbalik, ya kan!?"

Jiza, yang masih dalam posisi setelah mengayunkan pedang, berteriak kegirangan.

"……Kau."

Detik itu juga, Jiza tidak melewatkan kilatan amarah yang melintas di wajah Sid saat ia menoleh.

"Heh! Reaksi yang bagus, bukan? Sang Barbar yang katanya kejam dan tak berperasaan ini ternyata beda jauh dengan legenda; kau kelihatannya sangat lembek, ya!? Aku sudah tahu ini bakal berhasil!"

"…………"

"Dari posisi ini, aku hanya akan mengincar sang Pangeran! Saat kau mencoba mengalahkanku dan menjauh sedikit saja dari sisi Pangeran, meski aku mati, di saat yang sama kepala Pangeran juga akan melayang di udara!! Kau, apa kau sanggup mengalahkanku meski harus mengorbankan Pangeran!? Bisa!? Tidak mungkin, kan!? Lagipula, kau kan 'Tuan Ksatria' yang sangat mulia!? HYAHAHAHAHAHAHAHA──!"

Seolah membenarkan kata-kata itu, Sid tidak beranjak dari hadapan Alvin. Ia terus berdiri tegak melindunginya.

"Nah…… kira-kira berapa tebasan lagi kau bisa bertahan? Wahai Tuan Barbar yang legendaris……?"

Sambil menyunggingkan senyum menjijikkan, Jiza perlahan mengangkat pedangnya.

(Sial! Keberadaanku malah jadi beban bagi Tuan Sid……!)

Karena luka-lukanya, Alvin masih belum bisa bangkit berdiri, apalagi bergerak. Artinya, Sid pun tidak bisa beranjak dari hadapan Alvin. Keadaan yang tadinya penuh harapan seketika jatuh kembali ke dasar keputusasaan. Alvin hanya bisa terpaku dengan perasaan hancur.

(Tuan Sid……!)

Alvin mendongak menatap Sid dengan tatapan memohon.

"…………"

Sid hanya berdiri diam membisu, terus melindungi Alvin sambil menatap tajam ke arah Jiza.

Seberapa hebat pun ksatria legendaris itu, Alvin tidak yakin dia bisa melakukan apa pun dalam situasi seperti ini... Berdasarkan penilaian itu, Alvin berteriak dengan penuh tekad dan ketetapan hati.

"Tuan Sid... Jangan pedulikan aku! Habisi dia!"

"!"

Mendengar kata-kata Alvin, Sid menyipitkan matanya.

"Orang itu toh memang berniat membunuhku! Jadi──"

"Berisik, diamlah kau, Bocah! Jangan katakan hal yang tidak perlu!"

Jiza mengayunkan pedangnya dua kali, membentuk huruf X. Zubat! Tubuh Sid yang berdiri tegak melindungi Alvin kembali teriris mengikuti pola huruf X tersebut.

"A-aaaaa...! Tu-Tuan Sid...!"

"HYAHAHAHAHAHA──! Ini benar-benar mahakarya, kau benar-benar tidak bergerak, ya!? Kau benar-benar contoh ksatria yang luar biasa, GYHAHAHAHAHAHAHA──!"

Tawa kemenangan Jiza menggema di mana-mana.

"Tu-Tuan Sid... kumohon... kumohon jangan pedulikan aku...!"

Alvin mengarahkan pandangan memohon ke punggung Sid. Namun──

"Ya ampun. Bukankah sudah kukatakan berulang kali, Alvin? Seorang ksatria hanya mengatakan kebenaran."

Sid bergumam dengan nada penuh percaya diri.

"……Eh?"

"Aku sudah bilang, aku akan melindungimu."

Di depan Alvin yang menonton dengan terpaku, Sid melemparkan belatinya ke arah kaki, menancapkannya ke tanah. Lalu, ia mengangkat tangan kanannya yang kini kosong ke arah langit.

Alvin tidak paham logikanya. Namun di tengah hujan lebat dan badai yang mengamuk ini, Alvin benar-benar merasakan sesuatu yang meningkat dengan tenang namun kuat, berpusat pada tubuh Sid.

"Akan kuajari kau sesuatu, bajingan."

Sid menatap tajam Jiza dengan mata yang membara karena amarah.

"O-oi...! Ka-kau, jangan bertingkah yang an-aneh──"

Jiza meraung, dan seolah hendak memberikan serangan penutup, ia kembali bersiap melontarkan Bilah Bayangan──

──Tepat pada saat itu juga.

"Amarah ksatria──Akan memusnahkan kejahatan."

Sid mendeklarasikan hal itu sambil mengayunkan tangan kanannya ke bawah. Detik itu juga, sesuatu yang melampaui imajinasi terjadi.

Kwah! Seluruh dunia memutih dalam cahaya yang membakar, bersamaan dengan badai yang mengamuk terbelah menjadi dua──

──Suara gemuruh yang memekakkan telinga. Seberkas cahaya kilat yang menyambar. Kilat yang melesat jatuh dari langit yang jauh merobek atmosfer, lalu menghantam tepat pedang yang sedang diangkat oleh Jiza.

Akibat kekuatan dan guncangan dahsyat itu, Pedang Roh milik Jiza hancur berkeping-keping.

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA──!"

Seluruh tubuhnya seolah digerogoti oleh kilatan listrik yang dahsyat, membuat Jiza mengerang kesakitan yang amat sangat.

"……Ka-kau…… sebenarnya…… monster, ya……!?"

Dengan mata melotot tak percaya, itulah kata-kata terakhir yang ia ucapkan. Tubuh Jiza yang kini hangus menghitam benar-benar kehilangan nyawa, lalu ambruk dengan mengenaskan ke tanah.

"……Eh? Yang tadi itu…… Sihir Roh……? Ta-tapi, aku tidak pernah dengar ada Sihir Roh yang bisa mengendalikan petir…… lagipula, Tuan Sid tidak mengeluarkan Pedang Roh sama sekali……"

Di dunia ini, seharusnya yang bisa menggunakan sihir tanpa bantuan alat sihir atau Pedang Roh hanyalah kaum wanita dari suku mistis yang disebut Nimue (Suku Setengah Roh).

"Mungkinkah, itu hanya sambaran petir yang kebetulan……?"

Alvin hanya bisa terpaku, sama sekali tidak memahami apa yang baru saja terjadi. Namun, di saat Alvin kebingungan...

"…………"

Entah mengapa, Sid justru menatap tangan kanannya sendiri. Ia mengepalkan dan membuka jemarinya berulang kali, seolah sedang memastikan sesuatu. Ekspresi wajahnya yang sedikit menyipit itu... entah kenapa, tampak sedikit rumit.

"……A-anu……! Apakah ada sesuatu yang salah?"

Alvin memberanikan diri untuk menyapa Sid. Untuk beberapa saat, Sid tidak menjawab dan tetap membisu...

"……Tidak, bukan apa-apa," gumam Sid akhirnya, lalu ia kembali berbalik menghadap Alvin. "Daripada memikirkanku, bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja?"

"Ah, iya…… aku baik-baik saja. Kalau istirahat sebentar, aku pasti……"

Tanpa disadari, bersamaan dengan sambaran petir dahsyat tadi, badai dan hujan lebat telah mereda. Kini, hanya sisa-sisa angin badai yang masih bertiup kencang di sekitar mereka.

Lalu, Sid menghampiri Alvin yang masih terduduk lemas, kemudian berlutut di depannya.

"Nah, Anak Muda. ……Namamu Alvin, kan?"

Sid bertanya dengan nada yang sangat tenang. Ia pun menatap wajah Alvin dengan lekat dari jarak dekat.

"Eh…… iya…… benar…… tapi……"

Entah kenapa, Alvin merasakan sensasi panas yang menjalar di pipinya.

Tanpa memedulikan hal itu, Sid berujar. Seolah sedang merindukan sesuatu, seolah sedang mengharapkan sesuatu yang jauh dan tak terjangkau.

"Begitu ya. Garis wajahmu memang sedikit lebih halus, tapi ternyata kalian tetap mirip."

"Mi-mirip……?"

Di depan Alvin yang mengerjapkan matanya tak mengerti.

"Ya, kau benar-benar mirip dengannya…… mirip sekali dengan Alsur."

Sid meletakkan tangannya di dada, menatap Alvin dengan lurus, lalu mengikrarkan sumpah dengan penuh wibawa.

"Izinkan aku memperkenalkan diri sekali lagi. Namaku Sid Blamage. Atas perintah dari Alsur—majikan abadiku sekaligus sahabatku—aku telah bangkit kembali ke dunia ini dan datang kehadapanmu. Mulai detik ini, aku yang akan melindungimu. Segala kesulitan dan penderitaan yang menimpamu, akan kuhalau dengan pedangku."

Setelah mengatakan hal itu. Tepat pada saat Sid menatap mata Alvin dengan sangat dalam, pada saat itulah──

Deg-degan! Jantung Alvin berdegup kencang melampaui batas. Pipinya terasa semakin panas memerah, dan jantungnya mulai berdenyut liar seperti lonceng yang ditabuh bertalu-talu.

"Dan juga, tunjukkanlah padaku…… jalan rajamu. Tunjukkanlah apakah kau layak menjadi raja tempatku mempersembahkan pedang sebagai seorang ksatria…… perlihatkanlah padaku."

Kata-kata Sid selanjutnya sama sekali tidak masuk ke kepala Alvin. Rasa bahagia yang meluap-luap menyerang kepalanya, membuatnya tidak bisa lagi berpikir jernih. Ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari sosok bernama Sid. Rasanya seolah hatinya telah terjerat sepenuhnya. Jiwanya seakan tersedot ke dalam sepasang mata Sid yang menatapnya dengan lurus──

(Hah!? A-apa yang sebenarnya kupikirkan!? Ha-hal yang memalukan seperti gadis begini──)

Sampai di titik itu, Alvin menyadari bahwa pertanyaannya sendiri sebenarnya tidak berarti. Sebab, dirinya yang sebenarnya adalah──

"Tu-Tuan Sid…… aku……"

Dada yang berdebar kencang. Pikiran yang melayang seolah sedang demam. Dan, sebuah firasat bahwa sesuatu akan segera dimulai. Sambil diselimuti oleh perasaan aneh namun mendebarkan itu, Alvin terus menatap Sid tanpa henti.

 

 

──Demikianlah.

Melampaui waktu yang teramat panjang, seorang ksatria dari Era Legenda dan seorang calon raja muda dari masa kini pun akhirnya bertemu.

Tirai bagi legenda yang baru saja dimulai──

 


Komentar