Bab 2
Instruktur Sid
Ujung
utara Benua Alfeed. Sebuah daratan permafrost yang dikelilingi oleh pegunungan
tinggi nan terjal. Berdasarkan kondisi geografis dan hubungan dengan garis
spiritual (ley lines), tempat ini terkunci dalam es dan salju dengan
udara beku yang mengerikan layaknya neraka sepanjang tahun.
Tempat
ini adalah lokasi di mana dulunya berdiri Negara Iblis Dacnesia, yang konon
diperintah oleh seorang manusia yang dijuluki 《Raja Iblis》
pada Era Legenda.
Dan
di sana, bekas ibu kota negara iblis tersebut, Kota Iblis Dacnesia──kini tidak
ada satu pun makhluk hidup yang tersisa. Yang ada hanyalah kota mati di mana
reruntuhan yang membeku dan membusuk membentang tanpa batas.
Di
tengah kota itu, di dalam aula raja yang sepi di Kastil Dacnesia yang menjulang
tinggi bagaikan raksasa mengerikan...
Di
dalam kegelapan yang remang-remang, tampak sesosok bayangan manusia yang duduk
dengan lesu di atas singgasana batu yang dingin. Dia adalah seorang gadis
berambut perak panjang yang mengenakan gaun gotik di sekujur tubuhnya. Usianya
mungkin sekitar lima belas atau enam belas tahun. Jika dilihat dari dekat,
kecantikannya yang sanggup membuat kuduk merinding itu sudah memasuki ranah
iblis. Hanya dengan berdiam di sana, ia memancarkan aura spiritual dan tekanan
yang seolah menyedot semua kehidupan. Hawa keberadaannya yang tidak wajar
itu──dia bukanlah manusia. Bahkan mungkin, dia bukan lagi makhluk hidup.
Seseorang
yang berhenti menjadi manusia demi mendapatkan kekuatan supranatural──Majin
(Manusia Iblis). Itulah kata yang sangat cocok untuknya. Namun, meski ia adalah
entitas abnormal dalam bentuk manusia, mahkota yang bertahta di kepalanya serta
kewibawaannya yang berat dan penuh martabat benar-benar menunjukkan sosok
seorang "Raja".
"Keterlaluan!
Bisa-bisanya gagal!"
Gadis
bermahkota itu menggertakkan gigi dengan raut wajah kesal, lalu mengumpat
sambil memukul sandaran tangan singgasananya.
"Benar-benar
tidak berguna! Ternyata Ordo Kegelapan Opus tidak bisa diandalkan!"
"Aduh,
aduh. Anda sudah seenaknya menggerakkan Ksatria Kegelapan milik Ordo, tapi
bicaranya kasar sekali ya."
Tiba-tiba,
di samping singgasana itu, sebuah bayangan merembes keluar dari kegelapan dan
membentuk sosok manusia. Sosok itu adalah seorang penyihir wanita yang seluruh
tubuhnya terbungkus rapat dalam jubah bertudung hitam pekat. Meski tertutup
jubah, bentuk tubuhnya yang molek tetap terlihat jelas. Karena tudung yang
dikenakannya menutupi lebih dari separuh wajahnya, usianya sulit dipastikan.
"Apa
katamu!? Kalian Ordo Kegelapan Opus adalah pelayan setiaku, kan!?"
"Tentu
saja, Tuanku yang manis."
"Kalau
begitu, terserah aku mau menggunakan kalian seperti apa, kan!"
Gadis
bermahkota itu berteriak histeris ke arah sang penyihir yang hanya terkekeh
kecil di balik bibirnya.
"Padahal
itu kesempatan emas untuk membunuh Alvin! Aku tidak akan puas sebelum melihat
dia merasakan neraka dunia!"
Gadis
bermahkota itu gemetar sambil menggigit kukunya. Entah dendam seperti apa yang
mereka miliki, namun seluruh tubuhnya tampak diselimuti kebencian yang pekat
dan kelam.
"Saya
sangat memahami perasaan Anda yang begitu membenci Pangeran Alvin," ujar
sang penyihir, mencoba menenangkan gadis itu. "Namun, saat ini adalah
waktu yang krusial untuk menjalankan rencana kita di ibu kota... Saya mohon, ke
depannya tolong tahan diri Anda dari tindakan gegabah yang hanya didorong oleh
emosi sesaat."
"Ta-tapi!
Tapi kan!?"
"Tenanglah.
Kesempatan itu akan datang berkali-kali setelah rencana kita berhasil. Bukankah
bagi Anda, akan lebih memuaskan jika menghabisinya dengan tangan sendiri
daripada menyuruh orang lain?"
"……!"
Mendengar
teguran itu, si gadis bermahkota terdiam dengan wajah masam. Tak lama
kemudian...
"H-hmph!
Memang benar apa yang kau katakan."
Tak
disangka, gadis itu memalingkan wajahnya dan langsung mengalah begitu saja.
"Apa
yang kau katakan tidak salah. Maaf ya, aku sedikit gegabah tadi."
"Memang
benar-benar Tuanku... Anda sangat bijaksana."
Penyihir
itu tersenyum misterius sambil melirik gadis yang ternyata cukup penurut itu.
"Namun...
ada sedikit hal yang mengusik pikiran saya."
"Apa
itu?"
"Tentang
ksatria yang menyelamatkan Pangeran Alvin itu..."
Penyihir
itu berpikir sambil menyentuhkan jemarinya ke bibir dengan lembut.
"Meskipun
Ksatria Kegelapan yang Anda kirim kali ini termasuk level rendah, dia tetaplah
petarung kuat yang sulit dihadapi oleh ksatria zaman sekarang yang sudah
melemah. Ksatria yang berhasil memukul mundurnya... itu cukup menarik
perhatian."
Gadis
bermahkota itu pun mulai ikut bertanya-tanya.
"Kalau
dipikir-pikir, benar juga. Hutan itu kan wilayah suci keluarga kerajaan?
Seharusnya tempat itu kosong, tapi tiba-tiba muncul ksatria yang menolong
pangeran, itu terlalu kebetulan. Hei... kau tahu siapa ksatria itu?"
Penyihir
itu kembali tersenyum tipis dan menjawab.
"……Hanya
ada satu nama yang terlintas di pikiran saya."
"Hmm?
Siapa?"
"Begini.
Sebenarnya, ada sebuah legenda lisan kuno di dalam keluarga kerajaan
Calvania."
"……Legenda
lisan? Seperti apa?"
"Bahwa
jauh di dalam Hutan Shaltos, terdapat makam seorang ksatria. Dengan
mempersembahkan darah dari garis keturunan leluhur Alsur ke makam tersebut,
ksatria itu akan terbangun kembali dari tidurnya... begitulah bunyinya."
"Mungkinkah,
sihir pemanggilan reinkarnasi...? Maksudmu ksatria yang sudah mati itu bangkit
kembali?"
Gadis
bermahkota itu mengerjapkan mata karena terkejut.
"Lalu?
Siapa nama ksatria yang tidur di makam itu?"
Menanggapi
pertanyaan itu, sang penyihir menjawab dengan nada yang agung.
"──Sid.
Sid Blamage. Sang ksatria yang termasyhur, Tuan 《Barbar》
Sid."
Seketika
itu juga, guncangan hebat melanda si gadis bermahkota.
"Apa──!?
Tuan 《Barbar》 Sid!?"
Ia
menendang singgasananya dan berdiri tegak sambil menatap tajam sang penyihir.
"Hal
seperti itu tidak mungkin terjadi! Lagipula, sihir yang membangkitkan orang
mati itu──"
"──Kita
tidak bisa bilang itu 'mustahil'."
Penyihir
itu menimpali dengan tenang di depan gadis yang sedang emosional itu.
"Leluhur
kerajaan Calvania, Alsur, adalah orang yang menerima perlindungan dari Dewi Roh
Cahaya, Eclair. Di Era Legenda, mungkin saja Alsur secara rahasia dianugerahi
sihir khusus oleh Dewi Eclair."
Gadis
bermahkota itu tersentak mendengar penjelasan sang penyihir.
"Meski
kebenarannya belum pasti... jika ksatria itu benar-benar Tuan Sid yang
legendaris dan dia bergabung ke dalam barisan Pangeran Alvin, maka dia akan
menjadi ancaman besar bagi kita."
"Ke-kenapa...
kenapa selalu anak itu yang beruntung...!"
Gari.
Gadis bermahkota itu menggigit kukunya dengan wajah penuh amarah. Kebencian
yang merembes keluar dari dirinya terasa begitu beracun, seolah-olah bisa
membunuh orang hanya dengan hawa keberadaannya saja.
"Hmph!
Meskipun dia asli, ksatria dari zaman purba begitu bukan tandingan kita!"
"Tidak
apa-apa jika Anda ingin bersemangat seperti itu. Namun, memastikan kebenarannya
adalah prioritas utama," ujar sang penyihir, mencoba menenangkan gadis
yang sedang naik pitam itu.
"Apakah
ksatria itu benar-benar Tuan Sid yang melegenda... apakah dia bisa menjadi
ancaman bagi kita... mari kita perjelas dulu hal itu. Di sela-sela persiapan
rencana yang sedang berjalan, aku sendiri yang akan mencoba menyelidiki ksatria
tersebut."
"Ya,
aku serahkan padamu."
"Baik.
Segalanya demi Tuanku, aku tidak akan segan-segan mengerahkan seluruh tenagaku
untuk membantu Anda..."
Sambil
berkata demikian, sang penyihir tersenyum. Pada saat itu, di balik tudung
jubahnya yang dalam, tampak sekilas matanya yang mengintip. Di dalam mata itu,
kegelapan tanpa dasar dan kekosongan tampak bergejolak──
✞
Malam
pun──berganti pagi. Setelah pertemuan takdirnya dengan Sid, Alvin membawa Sid
berjalan menembus hutan yang masih remang-remang, mengandalkan sinar matahari
pagi yang menyelinap di antara pepohonan. Sepanjang perjalanan, Alvin
menceritakan berbagai situasi yang terjadi.
"Benar-benar...
saya mohon maaf karena telah membangunkan Anda secara paksa," ujar Alvin
sambil menunduk penuh sesal kepada Sid.
"Di
dalam keluarga kerajaan, ada legenda lisan yang diwariskan turun-temurun.
Katanya, 'Jika bencana menimpa keturunan raja, andalkanlah pria ini'. Itu
adalah pesan dari leluhur saya... Raja Suci Alsur, beserta sihir
rahasianya."
Alvin
menatap bergantian tanda tato pedang yang terukir di tangan kanannya dan tangan
kanan Sid. Tato tersebut dipenuhi oleh Mana misterius dan sedikit bercahaya.
"Begitu
ya. Jadi karena sihir itulah aku dibangunkan paksa dari tidur kematian selama
seribu tahun," balas Sid yang berjalan di samping Alvin dengan nada
bergurau.
"Tapi
ya... tak disangka ada sihir yang bisa membangkitkan orang mati. Rasanya sulit
dipercaya."
"Sepertinya
saat masih hidup, ada semacam kontrak sihir kuno antara Baginda Alsur dan Anda,
Tuan Sid... apakah Anda mengingat sesuatu tentang itu?"
"Tidak,
aku sama sekali tidak ingat. Ingatan masa laluku juga masih agak samar."
"Begitu
ya..."
Melihat
Alvin yang tampak sedikit murung, Sid melanjutkan pertanyaannya.
"Tapi,
siapa sebenarnya orang yang menyerangmu tadi?"
"Dia
adalah Ksatria Kegelapan dari Ordo Kegelapan Opus. Sebuah sekte sesat terlarang
yang memuja Dewi Roh Kegelapan, Opus. Mereka adalah ksatria dari Dacnesia,
negara iblis di utara yang dulu konon diperintah oleh Raja Iblis."
"Astaga,
padahal dulu sudah kuhancurkan sampai lumat, ternyata mereka masih ada saja
ya," ujar Sid sambil mengedikkan bahu karena heran. Alvin melanjutkan
dengan raut wajah masam.
"Beberapa
tahun terakhir, Ordo itu tiba-tiba aktif kembali. Sepertinya selama ini mereka
bersembunyi di bawah tanah."
"Seperti
kecoa saja."
"Ordo
itu berniat membangkitkan kembali Negara Iblis Dacnesia, mengangkat Raja Iblis
baru di tanah utara, dan menguasai dunia di bawah tangan mereka."
"............"
"Mereka
adalah musuh dunia. Aktifnya mereka kembali adalah masalah besar bagi negara.
Seharusnya sekarang negara bersatu untuk melawan mereka... namun sayangnya,
kerajaan kami tidak bisa sejalan."
"Maksudmu?"
"Tiga
Keluarga Besar Adipati... yaitu Keluarga Duke Durande, Duke Ortol, dan Duke
Ansaro... ada orang-orang egois dan ambisius yang mencoba menjadikan negara ini
mangsa mereka," ujar Alvin dengan kemarahan yang tertahan.
"Kerajaan
Calvania ini selama ini ditopang oleh keluarga kerajaan dan Tiga Keluarga
Adipati. Namun setelah raja sebelumnya wafat, posisi raja Calvania menjadi
kosong dan keluarga kerajaan melemah. Para kepala keluarga Adipati saat ini
justru saling menjatuhkan agar bisa menguasai negara ini sendirian."
"Saat
ini, berdasarkan perjanjian kuno dengan keluarga kerajaan, para 《Gadis Tepian Danau》 yang menjalankan tugas
sebagai wakil raja. Namun karena mereka bukan raja, wewenang mereka terbatas
dan tidak bisa sepenuhnya menekan kekuatan para Duke. Satu-satunya keturunan
raja yang tersisa hanyalah aku. Jika aku naik takhta, aku bisa menyatukan
kekuatan para Duke dan melindungi negara ini. Namun, raja di negara ini secara
tradisional haruslah seorang 'Ksatria Raja'. Berdasarkan hukum, untuk
mengenakan mahkota raja, seseorang harus mendapatkan gelar ksatria terlebih
dahulu."
"Sekolah
Ksatria Roh Kerajaan Calvania…… tinggal dua tahun lagi sampai aku lulus dan
menerima pelantikan ksatria secara resmi. Selama masa itu, Tiga Keluarga
Adipati yang merasa keberadaanku sebagai penghalang pasti akan merencanakan
segala cara untuk menggagalkan pelantikanku. Karena itu, Tuan Sid, ada satu
permohonan yang ingin kusampaikan padamu."
Tepat
saat Alvin menatap Sid dengan serius.
"Ah,
aku mengerti. Tenang saja. Aku akan melindungimu dari segala niat jahat,"
jawab Sid dengan enteng.
"Be-benarkah
tidak apa-apa……? Tuan Sid." Alvin mengerjapkan mata, menatap profil wajah
Sid dari samping. "Itu…… meski terpaksa, aku kan sudah membangkitkanmu
secara sepihak……?"
"『Seorang ksatria hanya
mengatakan kebenaran』.
Dan lagipula, itu pasti keinginan Alsur juga."
"Te-terima
kasih banyak! Aku sangat senang ksatria seperti Anda bersedia membantu!"
Alvin seketika menunjukkan raut wajah gembira yang terpancar di seluruh
wajahnya.
Namun,
sambil menyunggingkan senyum penuh percaya diri, Sid justru menyiramkan
kata-kata yang terasa seperti air dingin bagi Alvin.
"Tapi──maaf
saja, alasan aku melindungimu hanyalah karena aku adalah ksatria milik
Alsur."
"!"
Alvin tersentak mendengar penegasan Sid.
"Aku
bukannya bersumpah setia padamu, bukan juga menjadi ksatrimu. Ini murni karena
tuanku, Alsur, menitipkanmu padaku. ……Kau paham, kan?"
"…………"
"Satu-satunya
orang yang membuatku ingin mempersembahkan pedangku dengan sepenuh hati
hanyalah Alsur. Singkatnya, aku belum mengakuimu. Aku tidak berniat
memanjakanmu hanya karena kau keturunan Alsur, tahu?"
Mendengar
kata-kata tegas dari Sid, semangat Alvin langsung menciut.
"Be-……benar
juga ya…… Tuan Sid adalah ksatria Baginda Alsur…… Bisa dilindungi oleh orang
seperti Anda saja sudah merupakan hal yang luar biasa…… iya……"
Alvin
menunduk dengan tatapan sedih dan bahu yang lunglai, merasa sangat putus asa.
Melihat Alvin yang seperti itu, Sid terkekeh geli.
"Tu-Tuan
Sid?"
"Oi,
oi, Alvin. Ada apa? Kau ini akan menjadi raja, kan? Seharusnya ini adalah momen
di mana kau berkata 『Kurang
ajar!』
lalu mencoba menebasku, tahu?" "Kenapa seorang calon raja malah diam
saja saat diceramahi oleh ksatria liar yang tidak jelas asal-usulnya ini?
Hehehe."
"A……
u……" Alvin langsung merasa sungkan.
Namun,
Sid meletakkan tangannya di atas kepala Alvin dan mengusap rambutnya hingga
berantakan.
"Tebakanku
benar, kan? Kau tidak hanya menginginkan pengawal, tapi kau menginginkan aku
sebagai ksatria pribadimu? Hmm?"
"I-itu……
anu……" Deg. Alvin mengangguk dengan ekspresi yang tampak emosional.
"Heh,
kau ini aneh ya. Mana ada orang yang menginginkan kesetiaan dari ksatria yang
baru pertama kali ditemuinya? Ya sudahlah…… kalau begitu, tunjukkanlah jalan
rajamu padaku."
Sid
memberikan senyum yang tenang.
"Jika
saatnya tiba di mana aku merasa ingin mempersembahkan pedangku dengan sepenuh
hati pada jalan yang kau tempuh sebagai raja…… saat itu, aku tidak keberatan
menjadi ksatrimu. ……Itu pun kalau kau tidak keberatan dengan si 《Barbar》 ini."
Seketika
itu juga, wajah Alvin langsung cerah kembali.
"I-iya!
Aku akan berusaha keras! Mohon bimbingannya saat waktunya tiba nanti!"
"Heh.
Seorang raja jangan mudah menundukkan kepala. Kalau begitu, mahkotamu bisa
langsung merosot jatuh, tahu?"
"Ah!?
I-iya! Ma-maafkan aku!"
"Hahaha,
sepertinya jalan di depan bakal sulit ya, wahai
Tuan-Kandidat-Calon-Majikan-Masa-Depan-Magang-Asisten-Wakil?"
"Se-separah
itu kah aku di mata Anda!?" Alvin merasa terpukul hingga matanya
berkaca-kaca.
Sambil
bercengkerama seperti itu, keduanya terus berjalan menembus hutan. Akhirnya,
mereka sampai di ujung hutan yang menghadap ke tebing. Pandangan mereka
seketika terbuka luas.
"Ah,
Tuan Sid. Lihatlah. Itu adalah Kastil Calvania."
Alvin
menunjuk ke arah cakrawala. Dari atas tebing, jauh di depan sana, tampak sebuah
kastil raksasa yang dibangun di antara jajaran pegunungan, serta kota di bawah
kastil yang membentang luas di sekelilingnya──semuanya berkilauan tertimpa
cahaya fajar yang menyilaukan.
Kastil
raksasa yang terdiri dari banyak menara, paviliun, dan tembok benteng──Kastil
Calvania. Kemegahannya yang berwibawa sungguh sangat indah.
"……Kastil
Calvania…… ya."
Sid
bergumam sambil menatap jauh ke arah kastil raja dan kota di bawahnya.
"Kabarnya
kastil itu sudah ada sejak zaman Tuan Sid. ……Apakah Anda merasa rindu?"
"Jujur
saja, ingatan masa laluku samar jadi aku tidak terlalu tahu. Hanya saja──"
Sid menyipitkan mata, seolah sedang mengenang sesuatu yang jauh dan mulia.
"Dulu ada raja tempatku mengabdi, ada kawan-kawan yang berdiri
bahu-membahu bersamaku, dan ada rakyat yang harus kulindungi…… Sepertinya dulu
seluruh duniaku ada di kastil itu. Walau sekarang semua itu hanyalah cerita
dari masa lalu yang jauh……"
Cara
Sid berbicara membuat profil wajahnya tampak diselimuti kesenduan. Benar,
majikan dan teman-temannya sudah tidak ada lagi. Sekarang, dia sendirian di
dunia ini.
Alvin
yang seolah bisa merasakan kesepian di hati Sid, melangkah mendekat dan berdiri
di sampingnya.
"Apakah
Anda merasa kesepian?"
"Entahlah."
"Maafkan
aku……"
"……Heh,
ini bukan hal yang harus kau minta maafkan." Puk, puk. Sid mengusap
dan mengacak rambut Alvin.
"Begitu
ya. Kalau begitu, setidaknya izinkan aku berterima kasih. Kepada era legenda
yang indah itu…… dunia penuh kisah gemilang yang dijalin oleh para ksatria yang
kuat dan mulia…… atas keajaiban bahwa penghuni dunia seperti itu sekarang
berada di sampingku…… saat ini, aku hanya bisa berterima kasih tanpa
batas."
Untuk
beberapa saat, Alvin dan Sid terus menatap Kastil Calvania bersama-sama. Namun,
seolah sudah membulatkan tekad, Alvin berbalik menghadap Sid dan hendak
mengutarakan sesuatu.
"Anu,
Tuan Sid."
"Ada
apa?"
"Sebenarnya……
ada satu lagi permohonan yang ingin kusampaikan pada Tuan Sid."
Tepat
saat Alvin hendak mengatakannya……
"Alvin!"
Suara
derap kaki banyak kuda terdengar semakin mendekat dari arah kanan. Tampak
sepasang peleton prajurit berjumlah belasan orang yang mengibarkan bendera
Kerajaan Calvania sedang memacu kuda menyusuri jalan tebing menuju ke arah
mereka.
Sid
langsung waspada dan bergerak cepat menghalangi di depan Alvin untuk
melindunginya. Namun, begitu Alvin melihat sosok gadis yang memacu kuda di
barisan terdepan peleton tersebut, wajahnya langsung cerah dan ia berteriak:
"Tenko!
Ah, kau datang!"
Begitu
sampai, gadis terdepan itu──Tenko──langsung melompat turun dari kudanya
dan menghambur memeluk Alvin.
"Alvin!
Hiks…… syukurlah kau selamat! Maafkan aku! Maaf karena aku terlambat!
Maaf karena aku tidak bisa berbuat apa-apa di saat genting!"
Tenko
adalah gadis dengan ciri khas rambut putih sehalus benang sutra kualitas
terbaik yang diikat di tengkuk, serta mata emas yang sedikit tajam. Usianya
hampir sama dengan Alvin, sekitar lima belas atau enam belas tahun.
Dilihat
dari penampilannya, ia sepertinya berasal dari klan ksatria bangsawan di antara
ras Demi-human (Serean) yang disebut klan ekor mulia. Tenko memiliki
telinga panjang dan ekor yang mengingatkan pada seekor rubah. Meski
penampilannya memiliki sisi liar, namun tidak ada kesan kasar; kecantikan
dinginnya yang seolah menolak orang lain justru memancarkan
kebangsawanan──wibawa seorang ningrat.
Ia
mengenakan seragam resmi Squire (Ksatria Magang) yang sama dengan Alvin,
menandakan bahwa ia juga seorang ksatria magang yang belum dilantik.
"Aku
tidak apa-apa…… maaf sudah membuatmu khawatir……" Sementara Alvin
menenangkan Tenko yang menangis sambil berpelukan.
"Pangeran!
Syukurlah Anda selamat!" "Mari, ayo kita segera kembali ke
kastil!"
Para
prajurit di sekitar mereka pun menyuarakan kegembiraan satu per satu. Untuk
beberapa saat, para prajurit itu seragam mensyukuri keselamatan Alvin, namun
tak lama kemudian, secara alami mata mereka tertuju pada sosok
"asing" yang ada di samping pangeran mereka.
Sosok
itu adalah Sid, yang berdiri dengan tenang sambil memancarkan hawa keberadaan
yang misterius.
"Semuanya
tenanglah. Dia adalah penyelamat nyawaku. Tanpa dia, nyawaku sudah
melayang," jelas Alvin segera saat menyadari tatapan penuh selidik mulai
tertuju pada Sid. "Aku ingin mengundangnya ke kastil kita sebagai tamu
kehormatan. Aku minta kalian semua bersikap sopan padanya."
"Ji-jika
Pangeran berkata demikian…… baiklah, kami mengerti."
Para
prajurit menjawab dan mulai mempersiapkan kepulangan mereka dengan sigap tanpa
banyak tanya. Mereka membawakan kuda cadangan untuk Alvin dan Sid.
"Anu……
Alvin? Orang itu sebenarnya siapa dan dari mana?"
"Fufu,
benar juga ya. Nanti akan kujelaskan detailnya, tapi dia itu──" jawab
Alvin dengan senyum yang sedikit nakal.
✞
Setelah
diamankan oleh prajurit kerajaan yang dipimpin Tenko, Alvin dan yang lainnya
tiba di ibu kota Kerajaan Calvania. Di balik gerbang tembok benteng, terbentang
kota bawah kastil dengan deretan rumah dan bangunan batu beratap lancip, serta
alun-alun yang tersebar di sana-sini. Di berbagai sudut kota terdapat kuil,
universitas, balai pertemuan, kantor dagang, pasar, kedai minuman, hingga
pemandian umum. Di sisi jalan besar yang menuju gerbang kastil, berderet
berbagai toko dan kaki lima yang tampak sangat hidup dengan orang-orang yang
lalu lalang.
Menyusuri
jalan besar tersebut, Alvin dan rombongannya menuju jantung ibu kota. Di sana,
menjulang tinggi bagaikan gunung, berdirilah Kastil Calvania.
Kastil
Calvania memiliki struktur di mana bangunan utama raksasa di tengahnya
dikelilingi oleh menara-menara, bangunan sayap, dan tembok benteng yang tak
terhitung jumlahnya. Strukturnya secara garis besar terbagi menjadi empat
lapisan:
· Lapis
Atas: Area kediaman bangsawan, istana, dan Ruang
Audiensi──pusat fungsi pemerintahan negara.
· Lapis
Menengah: Kuil 《Gadis
Tepian Danau》,
area kediaman ksatria yang telah dilantik dan para menteri, pengadilan,
fasilitas militer, hingga taman gantung.
· Lapis
Bawah: Sekolah Ksatria Roh Kerajaan Calvania yang mendidik
para ksatria masa depan, lengkap dengan lapangan latihan, asrama siswa, halaman
tengah dan depan, parit, saluran air, hingga istal kuda.
· Lapis
Bawah Tanah: Gudang, ruang arsip, penjara, tempat
eksekusi, arena pertarungan, dan berbagai fasilitas lainnya.
Konon
kastil ini dibangun oleh para Gadis Tepian Danau dan pengrajin dari ras raksasa
Titan saat pendirian kerajaan. Bagian dalamnya telah berubah menjadi dimensi
lain berkat sihir kuno, sehingga memiliki luas area yang jauh melampaui
penampakan luarnya. Kastil itu sendiri bagaikan sebuah kota raksasa.
Setelah
menyeberangi jembatan angkat di atas parit dan kembali ke istana, Alvin segera
mengundang Sid masuk ke area Kuil 《Gadis
Tepian Danau》
di lapis menengah.
✞
"Mau
Pangeran yang bicara pun, aku tetap sangat keberatan!"
Di
sebuah tempat pemujaan yang terdiri dari pilar-pilar batu dan lengkungan busur
dengan altar di ujungnya, suara melengking Tenko bergema.
"Tenanglah
dulu, Tenko."
"Tidak
bisa tenang! Pangeran tidak mengerti apa-apa!"
Meski
Alvin mencoba menenangkan, Tenko tetap bersikeras menolaknya.
"Masalahnya……
dia ini kan si 《Barbar》 Tuan Sid, kan!?"
Tenko menunjuk dengan tajam ke arah Sid yang sedari tadi mengamati mereka
dengan wajah geli.
"Kejam,
sadis, dan tak punya perasaan! Penjahat besar yang di akhir hayatnya dihukum
mati oleh Raja Suci Alsur! Menempatkan orang jahat seperti itu di sisi Alvin,
sekuat apa pun dia, aku sangat keberatan! Apalagi menjadikannya Instruktur
Ksatria untuk kelas kita di Sekolah Ksatria Roh Kerajaan Calvania!"
Semenjak
Alvin menjelaskan kronologi tentang Sid dan menyatakan keinginannya untuk
menyambut Sid sebagai instruktur mereka, argumennya dengan Tenko benar-benar
menemui jalan buntu.
"Be-berani
sekali kau bicara begitu, Tenko!" Alvin mulai meninggikan suaranya karena
merasa ucapan Tenko keterlaluan. "Bukankah sudah kubilang berkali-kali!
Tuan Sid bukan orang seperti itu! Tuan Sid yang asli adalah──"
"Apakah
itu cerita omong kosong yang biasanya!? Itu pasti bohong semua!"
"I-itu
makanya──" Alvin menatap Sid seolah meminta pertolongan. "Tuan Sid,
katakanlah sesuatu! Anda bukan orang seperti itu, kan!?"
"Apakah
aku orang jahat atau bukan, ya?" Sid yang sedang bersedekap hanya terkekeh
misterius seolah menganggap situasi ini menarik. "Hmm? Entahlah,
sebenarnya bagaimana ya? Aku tidak terlalu ingat juga. Alvin, menurutmu sendiri
bagaimana?"
"Tu-Tuan
Sid!?"
Tepat
saat Alvin hendak mendesak Sid yang malah menjawab dengan seenaknya itu...
"Ya
ampun, apa sebenarnya yang kalian lakukan? Tuan Sid jadi merasa terganggu,
kan?"
Di
tempat itu, munculah seorang wanita yang kecantikannya bagaikan mimpi atau
ilusi. Dilihat dari penampilannya, usianya sekitar delapan belas atau sembilan
belas tahun. Rambut panjangnya berkilau biru, dengan sepasang mata marine
blue yang jernih. Telinganya runcing. Kulitnya putih transparan layaknya
salju baru, dan garis wajahnya tertata sangat presisi seolah seorang pemahat
dari ranah dewa telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk membentuk wajah itu.
Tubuhnya yang molek menggambarkan rasio emas yang sempurna sebagai seorang
wanita.
Ia
mengenakan gaun yang sangat tipis serta selendang sutra yang menyelimuti
tubuhnya seringan bulu, seolah hanya sebagai syarat formalitas untuk menutupi
lekuk tubuhnya yang anggun. Aura misterius yang terpancar dari sekujur tubuhnya
benar-benar tidak bisa disembunyikan.
"Saya
sudah mendengar ceritanya…… Mohon maaf karena telah memperlihatkan pemandangan
yang tidak mengenakkan ini."
Di
hadapan Alvin dan yang lainnya yang terdiam setelah ditegur, wanita itu
membungkukkan kepalanya dengan sopan kepada Sid.
"Dan
juga, terima kasih banyak karena telah menolong anak itu…… sang Pangeran.
Kemarin kebetulan saya dan Tenko sedang tidak berada di sisi Pangeran,
benar-benar situasi yang berbahaya."
Melihat
hal itu...
"Hou?
……Kau ini, suku Nimue (Setengah Roh), ya?"
Sid
bertanya seolah sedang merindukan sesuatu dari masa lalu.
"Benar.
Saya adalah Isabella, pemimpin generasi saat ini dari para 《Gadis Tepian Danau》. Sesuai dengan
perjanjian kuno dengan Raja Suci Alsur, saya adalah pelindung negeri ini."
Meski
ditanya dengan tidak sopan, wanita itu──Isabella──memperkenalkan diri dengan
senyum lebar tanpa merasa terganggu.
Di
dunia ini, memang terdapat berbagai macam ras. Ras yang paling mewakili antara
lain adalah Manusia (Human), Serean (Demi-human), Titan (Giant),
dan Nimue (Half-human Half-fairy). Suku Nimue dianggap sebagai ras rasul
dari Dewi Roh Cahaya, Eclair; mereka adalah kaum wanita misterius yang memiliki
kecantikan, mana, dan usia yang tak tertandingi oleh manusia biasa.
Di
antara suku Nimue tersebut, mereka yang mengikat perjanjian kuno dengan Raja
Suci Alsur dan meminjamkan kekuatannya kepada keluarga kerajaan serta negara,
secara khusus disebut sebagai 《Gadis
Tepian Danau》.
"Begitu
ya. Jadi perjanjian antara keluarga kerajaan dan para 《Gadis Tepian Danau》 pun masih tetap hidup?"
"Aduh,
saya dengar ingatan masa lalu Anda samar, tapi ternyata Anda masih ingat
tentang itu?"
"Ya,
sebagian."
Lalu,
Sid melirik Tenko sekilas, dan dengan nada yang terdengar geli ia bertanya
kepada Isabella.
"Tapi...
di zaman sekarang, apakah aku benar-benar diceritakan seburuk itu?"
"Bukan
cuma buruk lagi!"
Seolah
mendapat kesempatan, Tenko langsung menyela.
"Kejam,
sadis, dan tak punya perasaan! Suka menyiksa yang lemah, menodai wanita,
terus-menerus melakukan pembantaian tak berarti di medan perang, hingga
membangun tumpukan mayat dan sungai darah! Kau adalah bajingan yang tidak
pantas disebut ksatria! Legenda dan anekdot jahat tentang si 《Barbar》 Sid yang diwariskan
hingga sekarang itu terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu!"
Mendengar
penegasan Tenko yang berapi-api itu...
"Kukuku..."
Sebaliknya,
Sid justru hanya terkekeh pelan seolah merasa senang.
"A-apa
yang lucu!?"
"Bukan
apa-apa. Di zaman yang kalian sebut era legenda itu... kami para ksatria
bertarung sambil bermimpi agar nama kami abadi di masa depan dan kejayaan kami
disenandungkan oleh para penyair..."
Sambil
menyeringai penuh percaya diri, Sid melirik Tenko.
"Mimpiku
jadi kenyataan."
"~~~~~~!?"
Seketika
itu juga, wajah Tenko memerah padam karena marah.
"Seorang
ksatria malah bangga dengan nama buruk dan perbuatan jahat! Sekarang aku paham!
Aku benar-benar membencimu! Aku tidak peduli kau ksatria terkuat di era legenda
atau apa, tapi sebagai sesama ksatria, aku tidak akan pernah, pernah, peeeernah
mengakuimu!"
Tenko
mendesak Sid dengan penuh emosi, namun Sid tetap bersikap santai. Saat itulah,
Alvin memantapkan hatinya, memasang ekspresi serius, dan menengahi mereka. Ia
lalu berkata dengan lantang kepada Sid.
"Aku
percaya."
Kata-kata
itu dipenuhi dengan kemauan yang sangat kuat.
"Hou?"
Menatap
lurus ke arah Sid yang masih tampak geli, Alvin menyatakan:
"Pasti
ada alasan kenapa kau tidak membenarkan atau membantah penilaian tentang dirimu
sendiri, kan?"
"……Entahlah
ya?"
Hanya
untuk sesaat, Sid tertegun, lalu ia mengangkat bahu dan menjawab.
"Bisa
saja aku benar-benar sudah lupa total tentang masa lalu, kan?"
"Meski
begitu pun. Aku tidak percaya bahwa kau adalah orang seperti yang diceritakan
dalam legenda buruk itu."
"............"
"Tuan
Sid, tadi malam kau menjawab panggilanku saat aku berdiri di jurang
keputusasaan. Kau bangkit dari tidur kematian dan bertarung demi aku. Aku
percaya pada Tuan Sid! Aku percaya bahwa kaulah ksatria sejati di antara para
ksatria!"
Alvin
mencurahkan seluruh perasaannya langsung kepada Sid yang kini mengerjapkan mata
terkejut.
"Dan
karena itulah, aku ingin memohon bimbinganmu."
Melihat
semangat Alvin yang begitu menggebu-gebu, Sid terdiam. Alvin menatap tangannya
sendiri dengan penuh penyesalan.
"Akibat
aktivitas para monster yang meningkat akhir-akhir ini dan ancaman dari Negara
Iblis di utara, penduduk kerajaan selalu diliputi kecemasan. Kedamaian ini
hanyalah istana pasir yang rapuh dan bisa hancur sewaktu-waktu..."
"............"
"Suatu
saat, aku akan menjadi raja negeri ini. Saat itu tiba, aku harus melindungi
negeri ini, rakyatnya, dari segala macam penderitaan. Karena itu, aku ingin
menjadi kuat."
"Bukan
cuma aku, tapi demi melindungi negeri ini, kita semua—setiap orang—harus
menjadi kuat. Jadi, aku mohon! Jadilah instruktur kami! Latihlah kami!"
Sambil
memohon dengan sungguh-sungguh, Alvin menatap Sid lekat-lekat. Ya, Alvin bisa
percaya. Meski orang lain tidak percaya pada Sid, setidaknya ia—sebagai manusia
dari keluarga kerajaan Calvania—bisa memercayainya. Karena...
"............"
Melihat
tatapan Alvin yang begitu lurus dan penuh tekad, Sid menatapnya balik selama
beberapa saat. Akhirnya, wajah Sid melunak dan ia berkata dengan nada rindu.
"Yah.
Ternyata, kau memang... mirip sekali dengannya... dengan Alsur."
"...Eh?"
"Aduh,
hati-hatilah, tahu? Kalau kau semudah itu percaya pada orang lain, kau bisa
berakhir seperti Alsur—gampang sekali ditipu oleh wanita jahat."
"Eeeeh!?"
"Dia
itu memang tampan, tapi keberuntungannya soal wanita benar-benar paling buruk,
ditambah lagi dia itu terlalu baik hati. Kalau aku tidak mengawasinya, dia
pasti langsung tertimpa sial gara-gara wanita."
"Ke-kenapa
tiba-tiba muncul sisi buruk leluhur agungku yang tidak ingin kuketahui!?"
"Tapi..."
Sid meletakkan tangannya di atas kepala Alvin, mengusapnya dengan lembut sambil
berkata, "...terima kasih ya, Alvin."
"Ah..."
Senyum
yang diberikan Sid kepada Alvin terasa sangat hangat.
"Kalau
sudah bicara sampai sejauh itu tapi aku tidak membantu, reputasiku sebagai
ksatria bisa hancur. Ya sudahlah, soal jadi instruktur ksatria itu, serahkan
padaku."
"...I-iya...
aku juga berterima kasih... mohon bimbingannya..."
"Oi,
oi. Bukankah sudah kubilang? Seorang raja jangan mudah menundukkan
kepala."
"Meski
begitu pun, aku tetap ingin melakukannya." Alvin membalas dengan senyum
yang tampak sangat bahagia dari lubuk hatinya.
Melihat
interaksi mereka berdua, Isabella tersenyum kecut sambil melirik Tenko yang ada
di sampingnya.
"...Sepertinya,
semuanya sudah diputuskan ya."
"Mu-muuuu...!"
Tenko
yang bersangkutan hanya bisa menggertakkan gigi karena merasa tidak puas dengan
keputusan itu.
✞
──Hari
itu, adalah malam tanpa bulan. Lokasinya di sebuah sudut di Distrik Selatan Ibu
Kota Calvania. Di sebuah gang belakang yang sepi dan lengang, tampak seorang
pria berjalan sempoyongan sambil membawa lentera.
"Wii~...
hic..."
Pria
itu—Ivan Stard—adalah seorang pengrajin batu ahli yang tergabung dalam Serikat
Pengrajin Batu di Ibu Kota Calvania. Ia keras kepala, namun memiliki jiwa
pemimpin dan sangat peduli pada juniornya, sehingga banyak yang mengaguminya.
Karena selama ini fokus bekerja, pernikahannya tertunda dan ia melajang sampai
usia ini, namun baru-baru ini ia akhirnya menikahi seorang istri muda yang
cantik.
Benar-benar
kehidupan yang berjalan mulus. Setiap harinya dipenuhi kebahagiaan. Karena
itulah, ia benar-benar lupa. Bahwa kegelapan bisa membentang tepat satu langkah
di depan hidupnya.
"A-apa...?"
Ivan
yang berjalan sempoyongan baru menyadari sesuatu. Biasanya, jika ia belok kanan
di persimpangan depan, rumah tempat istrinya menunggu sudah dekat. Jalanan yang
sudah ia hafal luar kepala. Meski mabuk berat pun, tidak mungkin ia salah
jalan.
Namun,
entah mengapa di sana hari ini justru berdiri sebuah jalan buntu.
"...A-apa-apaan
ini? Apakah aku terlalu mabuk...?"
Tanpa
disadari, kabut tebal mulai menyelimuti sekitar. Pemandangan di sekelilingnya
pun terasa aneh. Apakah gang di daerah sini memang serumit labirin seperti ini?
Lalu,
Ivan menyadari hal lain. Ada sesuatu yang tertulis di dinding buntu tersebut.
"A...
apa ini...?"
Ivan
mengarahkan lenteranya ke dinding. Itu adalah lingkaran sihir. Lingkaran sihir
segitiga (Torah) tergambar di dinding, dengan berbagai mantra yang
ditulis dalam bahasa Roh Kuno.
Bukan
hanya dinding di depannya. Di dinding kiri, kanan, hingga lantai, terdapat
lingkaran sihir tak terhitung jumlahnya yang digambar berlapis-lapis,
menciptakan pemandangan yang mengerikan dan tidak wajar di area tersebut. Di
beberapa bagian tampak masih kosong, seolah lingkaran-lingkaran sihir itu masih
dalam proses pengerjaan.
Ivan
tidak mengerti apa arti dari semua itu.
"Si-sihir……
inikah yang disebut sihir itu? Hic, lihatlah…… mirip dengan yang biasa
dipakai oleh kakak-kakak suku Nimue di istana…… hic, tapi ke-kenapa ada
di tempat seperti ini……?"
Tepat
pada saat itu.
"……Selamat
datang, wahai anak domba yang tersesat di malam hari ini."
Tiba-tiba,
tanpa peringatan apa pun, sebuah suara dingin yang membuat bulu kuduk berdiri
berbisik tepat di telinga Ivan.
Sebuah
tangan menjulur dari belakang dan membekap mulut Ivan dengan lembut, dan pada
saat yang bersamaan, zuburi. Rasa panas yang membakar meledak di
punggung Ivan.
Itu
adalah pedang. Pedang itu menembus punggung Ivan hingga ujung mata pedangnya
yang merah bersimbah darah menyembul keluar dari dadanya.
Bushaa!
Bunga darah meledak hebat dari dadanya, membasahi lingkaran sihir di sekitarnya
hingga pekat.
"~~~~~~!?"
Di
tengah kejadian yang tiba-tiba itu, tanpa sempat memahami apa pun. Ivan bahkan
tidak mampu mengeluarkan teriakan, dan hidupnya pun berakhir dengan begitu
singkat.
"『Janganlah berkeliaran di
malam tanpa bulan』.
Malam hari adalah sejenis dimensi lain…… dunia jurang tempat para makhluk bukan
manusia bergerak dan berkuasa. Karena itulah, kau terpancing masuk…… oleh
penyihir jahat sepertiku, ya."
Di
belakang tubuh Ivan yang tersungkur, sang penyihir berdiri tegak. Seorang
penyihir yang seluruh tubuhnya terbungkus rapat oleh jubah hitam pekat
bertudung. Penyihir itu menatap mayat Ivan dengan tatapan dingin tanpa ada rasa
simpati sedikit pun.
"Tapi
tenang saja. Nyawamu tidak akan terbuang sia-sia. Kau akan menjadi nutrisi.
Nutrisi bagi teknik rahasia agung dari masa kuno…… kau akan menjadi
persembahan. Gifts, Youth, Lamb's Meat (Ramus)."
Penyihir
itu menggumamkan sesuatu dalam bahasa Roh Kuno.
Seketika,
kegelapan yang sangat pekat menyebar di bawah kaki sang penyihir layaknya
rawa…… dari sana, tangan-tangan bayangan hitam yang tak terhitung jumlahnya
menjulur keluar, mencengkeram jasad Ivan, dan menyeretnya tenggelam ke bawah.
Lalu,
dari dalam rawa tersebut terdengar suara bari-bori, suara mengerikan
seperti sesuatu yang sedang dikunyah dengan rakus.
Namun,
sang penyihir tidak lagi menunjukkan minat sedikit pun pada pria yang diseret
ke dalam rawa kegelapan itu. Ia menempelkan jarinya pada lingkaran sihir di
dinding, lalu mulai menggambar kelanjutan dari lingkaran sihir yang belum
selesai itu dengan lancar.
"Nah,
sebentar lagi ini pun akan selesai. Mengingat usaha keras yang telah kulakukan
selama ini, rasa puas dan kegembiraanku pun terasa berkali-kali lipat…… hihihihi……"
Penyihir
itu terus menggambar lingkaran sihir. Sambil menyunggingkan senyum dingin, ia
terus menggambar.
"Nah,
setelah pekerjaan malam ini selesai, selanjutnya adalah……"
Dan──
✞
Sekolah
Ksatria Roh Kerajaan Calvania, yang terletak di lapis bawah Kastil Calvania.
Sekolah ini terbagi menjadi beberapa kelas (faksi).
· Kelas
Durande, yang menjunjung tinggi kekuatan militer dan
kehormatan.
· Kelas
Ortol, yang menjunjung tinggi kebijaksanaan dan kecerdasan.
· Kelas
Ansaro, yang menjunjung tinggi hukum, disiplin, dan
kebajikan.
Secara
tradisional, para murid sekolah ksatria terbagi ke dalam tiga kelas ini. Mereka
bertujuan menjadi ksatria masa depan, tinggal di asrama untuk menjalani
kehidupan komunal, dan menghabiskan hari-hari mereka dengan berlatih serta
belajar.
Namun,
mulai periode ini, sebuah kelas keempat telah didirikan. Namanya adalah Kelas
Blitze.
Ini
adalah tempat penampungan bagi mereka yang karena berbagai alasan tidak bisa
masuk ke kelas lain dan tersisih. Murid dari kelas lain sering mengejek mereka
dengan sebutan "Kelas Sampah" atau "Kelas Pecundang".
Di
dalam ruang kelas Blitze yang terletak di sebuah paviliun kecil menghadap
halaman tengah istana.
"Hei,
Alvin. Mulai hari ini, kelas kita juga akan memiliki Instruktur Ksatria,
kan!?" "Iya, benar."
Ada
enam orang murid yang mengenakan seragam resmi Squire (Ksatria Magang)
di sana.
Di
waktu sebelum latihan pagi ini, para murid asyik mengobrol satu sama lain.
"Yosshaa!
Dengan begini akhirnya kita bisa mulai latihan ksatria yang sungguhan!"
"Yah,
begitulah……" Seorang gadis berambut abu-abu kuncir dua (twintail)
menjawab antusiasme pemuda berambut cokelat pendek itu dengan nada lesu.
"Sudah
setengah tahun sejak kita masuk sekolah ksatria ini…… tapi selama ini kita cuma
latihan mandiri, atau sesekali diawasi Lady Isabella di sela-sela urusan
pemerintahannya……"
"Benar.
Gara-gara tekanan dari Tiga Keluarga Adipati, sampai sekarang tidak ada satu
pun orang yang mau menjadi Instruktur Ksatria untuk kelas ini."
"Haa……
padahal di kelas ini ada pangeran dari sebuah negara…… dunia ini benar-benar
kelam ya."
"Sudahlah
tidak apa-apa! Yang penting sekarang instruktur kita sudah datang!"
Saat
pemuda berambut cokelat dan gadis kuncir dua itu asyik mengobrol...
"A-anu,
itu…… tapi! A-aku…… kalau orangnya terlalu galak, aku sedikit……!" Ucap
seorang gadis berambut linen dengan gelombang halus, tampak ketakutan.
"Apa
yang kau katakan, Linette! Kita ini kan mau jadi ksatria!? Siapa pun orang kuat
yang bisa melatih kita, aku akan menyambutnya dengan tangan terbuka! Benar kan,
Theodore!?"
Pemuda
berambut cokelat itu melemparkan pertanyaan ke sudut kelas.
"Hmph,
jangan berharap banyak," sahut sebuah suara sinis dari sudut itu.
Di
sana, seorang pemuda berkacamata duduk sambil bertopang dagu, menatap ke arah
luar jendela. "Kualitas pedang rendah, punya masalah pribadi…… instruktur
ksatria mana yang waras mau datang ke 'Kelas Tempat Pembuangan Sampah' yang
isinya murid-murid pecundang begini?"
"……Grrr.
Ta-tapi kan……" Pemuda rambut cokelat itu masih belum mau membuang
harapannya.
"Ya,
benar kata Theodore. Kita tidak bisa berharap apa-apa," timpal Tenko, si
gadis dari klan Ekor Mulia yang sedang bersedekap di dekat dinding sambil
mendengus sinis.
"Lagipula,
nama Instruktur Ksatria itu adalah Sid Blamage. Tuan 《Barbar》
Sid yang terkenal itu."
「「「「Hah? Sid?」」」」
Seketika,
murid-murid di kelas itu melongo.
"Tu-tunggu
dulu…… Tuan 《Barbar》 Sid yang itu…… bukan Sid
yang itu, kan?"
"Ahaha,
itu tidak mungkin lah…… dia kan orang yang sudah meninggal seribu tahun
lalu……"
"Mungkin
cuma orang lain yang namanya sama?"
"Ya
ampun, berani sekali dia memakai nama Tuan Sid. Benar-benar orang yang tidak
tahu malu."
Saat
mereka semua berusaha meyakinkan diri masing-masing...
"Sayangnya,
dia adalah orang asli dari legenda itu. Sepertinya dia baru saja bangkit
kembali setelah seribu tahun," ucap Tenko ketus, menyodorkan kenyataan
pahit.
「「「「…………」」」」
Keheningan
menyelimuti seisi kelas selama beberapa saat.
"HAAAAAAAHHHHHHHHH!?
Apa-apaan itu!?"
"Tunggu,
Alvin!? A-apa sebenarnya maksudnya ini!?"
Tiba-tiba
kelas menjadi riuh, dan semua tatapan tertuju pada Alvin.
"E-eh……
ahaha…… mulai cerita dari mana ya……?" Saat Alvin sedang menggaruk pipinya
dengan bingung...
"Cerita
itu…… aku juga tertarik mendengarnya……"
Terdengar
suara malas dari dekat pintu masuk kelas, membuat semua mata menoleh ke sana.
Di sana, berdirilah seorang gadis cantik dengan rambut pirang yang mewah, mata
merah pekat seperti darah, kulit putih, dan kecantikan yang sanggup membuat
siapa pun menahan napas. Ia mengenakan seragam Squire yang sama dengan
Alvin dan yang lainnya.
Sembari
murid-murid lain mengerjapkan mata, gadis itu menguap kecil, mengucek matanya
yang tampak mengantuk, lalu menyapa dengan suara yang sangat santai.
"……Hoaamm……
'Selamat pagi semuanya, seperti biasanya'~"
Alvin
menyipitkan matanya dengan tatapan lelah dan menghela napas.
"Kau
terlambat, Flora. Lonceng jam delapan sudah berbunyi dari tadi."
"Aduh,
benarkah? Maaf ya…… aku memang sulit bangun pagi……"
"Ki-Ksatria
macam apa yang bicara sesantai itu!? Kau ini, sejak masuk sekolah selalu saja
begini, kan!?" Tenko berkacak pinggang, memberikan teguran keras pada
sikap Flora yang terlalu santai.
"Sudahlah,
kalian berdua. Dia memang selalu begitu, kan?"
"Benar,
percuma saja bicara apa pun pada Flora."
Murid-murid
lain mulai menimpali satu sama lain. Namun, Flora yang menjadi pusat
pembicaraan sama sekali tidak ambil pusing. Dengan santainya, ia berjalan
menuju kursinya yang kosong sambil tersenyum manis.
Sambil
menopang dagu dengan gaya sedikit nakal, ia menatap Alvin untuk meminta
kelanjutan cerita. "……Jadi? Bagaimana dengan Tuan Sid yang dirumorkan
itu……?"
"Ah,
iya. Benar juga. Kalian pasti sudah tahu kalau tempo hari aku diserang Ksatria
Kegelapan, kan? Nah, saat itu terjadi banyak hal……"
Sambil
tersenyum kecut, Alvin mulai menceritakan tentang Sid secara perlahan.
✞
"Se-serius,
dia benar-benar si 《Barbar》 Tuan Sid itu……!?"
"I-ini
benar-benar di luar dugaan……!"
"Awawawa……!
Ta-takutnyaaa……!"
Setelah
penjelasan Alvin selesai, seisi kelas mulai diliputi ketakutan.
"Tuan
《Barbar》 Sid…… menurut
kepercayaan umum, dia adalah bajingan yang tidak pantas disebut ksatria……"
Ucap pemuda berkacamata dengan wajah yang sedikit tegang.
"Benar,
anekdot dan legenda jahat tentangnya terlalu banyak untuk disebutkan,"
tambah gadis kuncir dua sambil mengangguk dengan wajah pucat.
"Ya-yang
kudengar…… i-itu, Tuan Sid…… pernah membantai seluruh penduduk desa yang tidak
berdosa hanya demi mencoba ketajaman pedang barunya……!? Hieee……!" Gadis
berambut linen gemetar ketakutan saat mengingat legenda tersebut.
"Itu
sih masih mending! Yang kudengar, saat di medan perang, selain menebas seratus
musuh, dia juga 'menebas' seratus wanita tawanan dengan 'pedang
bawahnya'!" seru pemuda berambut cokelat sambil menelan ludah.
"Terlalu
perkasa…… apakah ksatria era legenda itu memang monster?" Pemuda
berkacamata mengerang sambil menyeka keringat dingin di dahi.
"Tu-tunggu
dulu! Kalian semua tidak sopan!" Alvin menggembungkan pipinya, mulai
melancarkan protes. "Tuan Sid bukan orang seperti itu! Dia adalah ksatria
sejati di antara para ksatria!"
"Mulai
lagi deh, delusi Alvin," gumam Tenko yang tampak sudah lelah. "Kenapa
bayanganmu tentang Tuan Sid bisa sangat melenceng dari pandangan umum
begitu?"
"I-itu
karena……" Alvin terdiam, tidak mampu membantah.
Tanpa
mendesak Alvin lebih jauh, Tenko menghela napas panjang. "Yah, sudahlah,
lupakan soal itu untuk sekarang…… Tapi Tuan Sid lama sekali ya? Sudah lewat
cukup lama dari lonceng jam delapan. Bahkan sebentar lagi lonceng jam
sembilan."
"Be-benar
juga……" Alvin memiringkan kepalanya. "Hmm…… apakah dia tersesat?
Kastil ini kan luas sekali seperti kota…… sepertinya tadi aku harus berangkat
bersamanya ya?"
"Lalu
bagaimana?"
Mendengar
pertanyaan Tenko, Alvin berpikir sejenak lalu menjawab. "Terpaksa, aku
akan memanggilnya."
"Memanggilnya?"
Alvin
menunjukkan tato pedang di punggung tangan kanannya kepada semua orang.
"Menurut Isabella, posisi Tuan Sid saat ini…… secara teknis mirip seperti familiar-ku
(makhluk pelayan). Jadi, kalau aku berkonsentrasi dengan kuat, aku bisa
memanggilnya dengan kekuatan sihir."
"Wah,
praktis ya…… dipanggil langsung datang."
"Hubungannya
mirip seperti Pedang Roh bagi seorang ksatria ya."
"Seperti
pedang yang melayani ksatria, maka ksatria melayani raja…… Begitu ya,
perumpamaan yang menarik."
Seketika.
"……Hmph." Melihat interaksi murid-muridnya, Tenko terang-terangan
mengernyitkan dahi.
Sambil
tersenyum kecut melihat Tenko yang entah mengapa terlihat sangat kesal, Alvin
menjulurkan punggung tangan kanannya ke depan dan mulai berkonsentrasi dalam
diam.
(Wahai
garis keturunan Raja Suci Alsur, Alvin Nor Calvania memohon di sini──)
Tiba-tiba,
cahaya Mana menari dengan lembut di sekitar mereka. Tato di punggung tangan
Alvin mulai bersinar panas. Butiran cahaya yang menari-nari itu jatuh ke
lantai, membentuk lingkaran sihir segitiga Torah.
Perlahan,
hawa Mana di tempat itu semakin meningkat. Sebuah keajaiban kuno sedang
terwujud di depan mata mereka semua.
"O-oh……?"
Seluruh
orang di sana menahan napas sambil mengawasi dengan seksama.
(Tuan
Sid Blamage, Sang 《Ksatria
Kilat》……
Jawablah panggilanku. Tampakkanlah dirimu di hadapanku!)
Alvin
memanggil Sid dengan perasaan yang sangat, sangat kuat.
"──Kemarilah,
ke sini!"
Pada
saat itu, lingkaran sihir yang terbentuk di lantai mengeluarkan cahaya yang
sangat menyilaukan! Membakar pandangan semua orang menjadi putih bersih sesaat.
Dan──begitu
cahaya itu meredup.
"3843!
……3844! ……3845! ……"
Di
sana, sosok Sid telah muncul.
"……3846!
……3847! ……"
Sid
sedang melakukan ayunan pedang (suburi) dengan sangat khusyuk
menggunakan tongkat besi pemberat yang besarnya seperti batang kayu.
Ia
memasang kuda-kuda, mengatur napas, memusatkan energi, lalu perlahan
mengangkatnya lurus ke atas kepala. Kekuatan mengalir lancar dari bahu, siku,
hingga pergelangan tangan, lalu dengan satu langkah mantap dan pelepasan energi
yang tajam, ia mengayunkannya ke bawah dengan cepat──dan diakhiri dengan posisi
Zanshin (kewaspadaan penuh).
Ia
terus mengulang bentuk latihan ayunan yang kasar namun entah mengapa terasa
sangat halus dan terlatih itu. Ayunan Sid bukanlah sekadar rutinitas, setiap
tebasannya dipenuhi konsentrasi yang luar biasa hebat. Entah sudah berapa lama
dia tenggelam dalam latihan itu, keringat mengalir deras seperti air terjun di
sekujur tubuhnya.
Gerakan
ayunan pedangnya itu tampak indah seperti tarian, membuat siapa pun betah
memandangnya selamanya. Namun, ada satu-satunya masalah terbesar di sini……
"……Anu,
maaf, Tuan Sid……?" panggil Alvin dengan nada sungkan.
"3975!
……, ……Hm? Alvin?"
Sid
akhirnya tersadar, ia menghentikan ayunannya dan menoleh ke arah Alvin dan yang
lainnya.
"Di
mana ini……? Ah, gawat. Apa sudah masuk jam pelajaran?" Sid menyeka
keringat di dahinya sambil mengatur napas pendek.
"Hahaha,
maaf ya. Dari dulu, aku memang punya sifat kalau sudah fokus pada satu hal, aku
jadi tidak melihat sekeliling."
"Bukan……
kalau soal itu tidak apa-apa, tapi lebih dari itu……"
"Kau
tanya aku sedang apa? Oh, seperti yang kau lihat, aku sedang berlatih ayunan
pedang. Efek dari pemanggilan reinkarnasi ini membuat tubuhku jadi sangat
lemah…… jadi kupikir aku harus memulihkannya sedikit demi sedikit."
"Bukan……
itu juga tidak apa-apa…… tapi kenapa……?" Alvin menunduk dengan wajah merah
padam, bahu dan tinjunya gemetar hebat. Hingga akhirnya, ia berteriak karena
sudah tidak tahan lagi.
"KENAPA
ANDA TELANJANG BULAT!?"
"Hm?"
Benar.
Seperti yang dikatakan Alvin…… Sid berdiri di sana tanpa sehelai benang pun,
alias telanjang total. Meski tubuhnya terlihat ramping, otot-ototnya terlatih
tanpa lemak sedikit pun. Keindahan tubuh atletis berbentuk segitiga terbalik
itu tampak seperti patung kuno yang dipamerkan tanpa rasa malu di depan semua
orang.
"…………"
Sid
menunduk menatap dirinya sendiri selama beberapa saat……
"……Kalau
latihan ayunan pedang, ya harus telanjang, kan? Bukankah itu pengetahuan
umum?"
"PENGETAHUAN
UMUM DI DUNIA MANA!?"
Alvin
langsung melancarkan protes keras dengan wajah yang merah sempurna. Dan
kemudian──
"SI-SI-SI-SI-SI
DASAR EKSIBISIONIS MESUMMMMMMMMMMM──!"
Tenko
berteriak dengan wajah merah padam, matanya berputar-putar dalam kekacauan
emosi. Lalu, ia menghunus pedangnya. Ia menghentak lantai, melesat ke arah Sid,
dan melancarkan sebuah tusukan dengan satu tangan──
"Ja-ja-jauuuhkaaan
tanganmu dari Alvinnnnnnn──!"
"……Ups?"
Tapi,
Sid dengan santai menjepit ujung pedang yang mendekat itu menggunakan ujung
jari tangan kirinya. Ia menggeser tubuhnya ke kanan dengan gerakan mengalir,
membuang arah tusukan tersebut.
Pada
saat yang sama, tangan kanannya mencengkeram tengkuk Tenko sambil melakukan
sapuan kaki. Ia membanting tubuh Tenko ke lantai dengan gerakan melingkar──lalu
mendudukinya (posisi mount).
"Kyan!?"
Tenko
yang terlentang mengeluarkan teriakan kecil. Sid menindih kedua tangan dan kaki
Tenko dengan tangan dan kakinya sendiri, benar-benar mengunci pergerakan gadis
itu.
"Gawat.
Secara tidak sadar aku malah mempraktikkan Teknik Gulat Medan Perang (Wrestling)."
Ujar
Sid sambil menatap Tenko yang berada di bawahnya.
"Tapi,
Tenko. Itu berbahaya, tahu? Bagaimana pun juga, tiba-tiba menebas orang itu
tidak baik. Kalau lawanmu bukan aku, kau bisa terluka parah……"
Sid
mencoba memberikan nasihat yang sangat masuk akal dan penuh tata krama ksatria,
tapi...
"KYAAAAAA!?
TIDAAKKKK──!? To-to-to-tolooooonnnngggg──!"
Tenko,
yang tidak bisa berkutik karena ditindih oleh pria yang telanjang bulat, sama
sekali tidak peduli pada nasihat itu. Dengan mata berkaca-kaca dan hampir gila,
ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan brutal sambil meronta-ronta
sekuat tenaga.
"Anu……
tolong lepaskan dia……"
Melihat
pemandangan itu, Alvin hanya bisa menghela napas panjang dengan bahu terkulai
lemas. Sementara para murid lain──
"I-itukah
Tuan Sid yang melegenda itu……!?"
"Glek……
Baru saja dipanggil ke zaman ini, dia langsung menjatuhkan seorang gadis……
Benar kata orang, pahlawan memang selalu menyukai keindahan (wanita)……!"
"Tidaakkk~!
Orang itu cuma penjahat kelamin mesum biasa tahu!"
"Kalau
begini ceritanya, anekdot soal 'menebas seratus musuh sekaligus menebas seratus
wanita dengan pedang bawahnya' itu sepertinya memang kenyataan ya……"
Mereka
semua benar-benar bicara semaunya sendiri. Dan di hadapan pemandangan kacau
tersebut...
"Ufufufu……
Tuan Sid sepertinya orang yang sangat menarik ya~"
"Haa,
Flora…… kau tetap saja santai seperti biasanya ya……"
Melihat Flora yang tersenyum tanpa merasa terganggu sedikit pun, Alvin hanya bisa menjawab dengan nada lelah.



Komentar
Posting Komentar